Renungan Harian, 29 Agustus 2026
Pernahkah Anda membayangkan mendapat tawaran untuk bergabung dalam sebuah proyek besar bersama seorang pemimpin atau arsitek ternama? Tentu Anda akan berusaha keras menunjukkan kualitas kerja terbaik, menjaga integritas, dan menjaga nama baik pemimpin Anda. Di dalam hidup ini, kita sebenarnya telah menerima undangan yang jauh lebih luar biasa.
Firman Tuhan dalam 1 Korintus 3:9 menegaskan, “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Menjadi rekan kerja Tuhan berarti kita mewakili nama-Nya di dunia ini—entah di tempat kerja, di tengah keluarga, maupun dalam komunitas. Pekerjaan ini menuntut kita untuk menjaga standar kebenaran, memiliki belas kasihan, dan menjauhi kepentingan diri sendiri. Jangan sia-siakan undangan mulia ini. Hiduplah sebagai mitra yang setia dari hal-hal yang kecil, tanggalkan keegoisan, dan biarkan hidup Anda menjadi bangunan kesaksian yang indah yang kelak akan menerima mahkota abadi dari Sang Arsitek Agung.
Refleksi Hidup
Mari sejenak mengevaluasi keseharian kita. Apakah perkataan, tindakan, dan respons kita saat menghadapi tekanan atau konflik sudah mencerminkan kualitas seorang kawan sekerja Allah? Ataukah kita masih sering memaksakan kehendak, mudah berdebat, dan mencari pengakuan dari manusia? Sebagai mitra-Nya, kita dipanggil untuk memiliki hati yang rela melayani. Firman Tuhan menasihatkan, “Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Filipi 2:3).
Secara praktis, jika hari ini Anda dihadapkan pada perselisihan yang menguras emosi, pilihlah untuk mengalah dan berespons dengan kasih. Ingatlah selalu bahwa “seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang” (2 Timotius 2:24). Daripada bersikeras memenangkan perdebatan, berjuanglah untuk memenangkan hati sesama dengan kelemahlembutan. Mulailah setia menerapkan kasih dari perkara-perkara kecil di rumah atau tempat kerja. Saat Anda merasa lelah atau tidak sanggup, jangan mengandalkan kekuatan sendiri, sebab “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).
Doa
Bapa yang Mahabaik, sungguh suatu kehormatan bagiku boleh Engkau panggil sebagai kawan sekerja-Mu di dunia ini. Ampunilah aku jika selama ini sikap, perkataan, dan keegoisanku belum mencerminkan karakter-Mu di hadapan sesama. Ya Roh Kudus, mampukanlah aku untuk hidup kudus, ramah, dan rendah hati. Berikan aku kekuatan agar senantiasa setia menjadi saksi-Mu yang membawa damai sejahtera, di mana pun Engkau menempatkanku hari ini. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
