Renungan Harian, 8 September 2026
Pernahkah Anda menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal, lalu Anda berusaha keras mengenali suara siapa yang sedang berbicara di ujung telepon? Hal yang sama sering terjadi dalam perjalanan rohani kita. Kita begitu merindukan tuntunan Tuhan saat mengambil keputusan, namun di tengah bisingnya keinginan dunia dan ambisi pribadi, kita sering kebingungan membedakan mana yang benar-benar suara-Nya.
Firman Tuhan mengingatkan, “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya‘ (Ibrani 3:7). Allah kita bukanlah Allah yang bisu. Ia aktif berkomunikasi dan menuntun umat-Nya melalui banyak cara: mulai dari ayat-ayat Alkitab, dorongan hati untuk berbuat baik, teguran saudara seiman, hingga cara khusus seperti mimpi atau penglihatan. Namun, kita harus selalu rendah hati agar tidak terjebak pada asumsi atau “rekaan hati sendiri”. Latihlah kepekaan rohani Anda, dan pastikan setiap pesan yang Anda yakini dari Tuhan selalu berlabuh teguh pada kebenaran Alkitab, agar langkah hidup Anda selalu berada di dalam damai sejahtera-Nya.
Refleksi Hidup
Mari sejenak mengevaluasi kejujuran hati kita: apakah keputusan atau keyakinan yang kita jalani saat ini sungguh-sungguh lahir dari dorongan Roh Kudus, atau sekadar ego pribadi yang kita beri label “suara Tuhan”? Terkadang, kita begitu memaksakan kehendak sendiri dan mengabaikan nasihat teguran Firman Tuhan. Agar kita tidak tersesat, ingatlah selalu bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar… dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16). Alkitab adalah standar mutlak dan filter utama kita.
Mulai hari ini, praktikkanlah sikap kehati-hatian rohani. Ketika Anda merasa mendapat petunjuk, dorongan kuat, atau nasihat dari seseorang, jangan terburu-buru bertindak. Firman-Nya menasihatkan, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21). Selaraskan hal itu dengan Alkitab, karena “Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah” (1 Yohanes 4:1). Biasakanlah diri Anda untuk duduk tenang merenungkan firman-Nya setiap hari, agar telinga Anda semakin peka mengenali suara Sang Gembala.
Doa
Bapa yang Mahakasih, terima kasih karena Engkau selalu peduli dan rindu menuntun setiap langkahku. Ampunilah aku jika selama ini aku lebih sering mendengarkan keegoisanku sendiri daripada mencari wajah-Mu. Ya Roh Kudus, tajamkanlah telinga rohaniku. Mampukan aku untuk selalu peka mendengar suara-Mu dan menguji segala sesuatunya lewat kebenaran firman-Mu, agar hidupku menyenangkan hati-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
