Renungan Harian, 20 Agustus 2026
Terkadang, saat menyusun sebuah program besar—misalnya merencanakan kunjungan studi kewirausahaan untuk rombongan empat puluh peserta ke Semarang—kita bisa dengan mudah terjebak pada rasa percaya diri yang berlebihan. Kita merasa strategi operasional yang kita buat sudah paling matang dan kesuksesan pasti ada di genggaman. Namun, di tengah euforia tersebut, firman Tuhan mengingatkan kita tentang bahaya kesombongan terselubung. Dalam Yakobus 4:13, 16, Alkitab menegur dengan lembut: “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang…’ Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu.”
Sikap memegahkan diri, baik karena merasa lihai merencanakan masa depan, memiliki kelimpahan materi, maupun merasa paling rohani, pada akhirnya hanya akan membawa kejatuhan. Ingatlah, sehebat apa pun rencana dan kemampuan analitis kita, kesombongan akan merampas damai sejahtera. Mari tanggalkan “jubah kehebatan” kita. Saat kita merendahkan hati dan mengakui ketergantungan penuh pada campur tangan Tuhan, di situlah Ia justru akan mengangkat dan menjadikan hidup kita berkat yang nyata.
Refleksi Hidup
Mari sejenak mengevaluasi kedalaman hati kita. Apakah perkataan, tindakan, dan setiap rencana yang kita susun sudah sungguh-sungguh mencerminkan ketaatan kepada Tuhan? Sering kali, tanpa sadar kita mungkin memandang rendah orang lain yang kita anggap kurang berpengalaman atau memiliki status sosial yang berbeda. Padahal, firman-Nya memperingatkan dengan tegas bahwa “Mata yang congkak dan hati yang sombong… adalah dosa” (Amsal 21:4). Begitu juga dalam merencanakan masa depan, hindarilah menyingkirkan peran Tuhan.
Mulai hari ini, belajarlah menyertakan-Nya dalam setiap langkah praktis Anda dengan berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (Yakobus 4:15). Jangan biarkan jabatan, kedudukan, atau bahkan pengalaman membuat Anda tinggi hati. Sebab janji-Nya sangat jelas: “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23:12). Hiduplah dengan jujur, hargai sesama tanpa membeda-bedakan, dan biarkan Tuhan yang menjadi pusat dari setiap pencapaian Anda.
Doa
Tuhan Yesus yang baik, ampuni aku jika selama ini aku sering mengandalkan kekuatanku sendiri dan memegahkan diri atas setiap pencapaian atau rencanaku. Ya Roh Kudus, tolong aku untuk selalu memiliki hati yang rendah dan mau diajar. Tuntunlah setiap langkahku agar aku tidak berjalan sendirian, melainkan selalu mengutamakan kehendak-Mu dan menghargai sesamaku. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
