Daily Devotion, 24 Juni 2026
Pernahkah Anda terjebak berkendara di malam yang sangat pekat dan berkabut tanpa lampu sorot yang terang? Setiap belokan terasa menakutkan karena kita tidak tahu apa yang ada di depan. Dalam perjalanan hidup sehari-hari, kita pun sering menghadapi “kabut” serupa—baik berupa gesekan di tempat kerja maupun kesalahpahaman dalam keluarga. Sayangnya, saat kita mendahulukan ego atau sekadar logika manusia, yang sering muncul justru perselisihan, sakit hati, dan dendam. Di sinilah kita sangat membutuhkan tuntunan supranatural.
Ayub 28:28 mengingatkan kita, “Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.” Hikmat Tuhan bukanlah tentang seberapa tinggi tingkat intelektual kita, melainkan sebuah kemampuan rohani untuk memahami hati Tuhan dan menerapkannya saat mengambil keputusan. Jika hari-hari ini Anda merasa lelah karena salah melangkah atau kekurangan pemahaman, datanglah kepada-Nya. Sebab, Yakobus 1:5 berjanji bahwa jika kita meminta hikmat, Allah akan memberikannya dengan murah hati. Ketika kita memilih untuk hidup melekat pada-Nya, hikmat itu akan menuntun rumah tangga, pekerjaan, dan masa depan kita ke dalam damai sejahtera yang sejati.
Refleksi Hidup
Mari kita mengambil waktu sejenak untuk bercermin dengan jujur. Apakah keputusan, ucapan, dan sikap kita belakangan ini sudah mendatangkan damai, atau justru memicu perpecahan? Ingatlah bahwa hikmat yang murni dari surga selalu melahirkan buah-buah yang baik. Yakobus 3:17 menuliskan bahwa “hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik…” Jika buah yang keluar dari hidup kita masih berupa amarah atau keangkuhan, kemungkinan besar kita sedang berjalan dalam tuntunan nafsu duniawi.
Langkah praktisnya, mari kita buka hati untuk mengalami pembaharuan budi setiap hari melalui firman-Nya, seperti yang tertulis dalam Roma 12:2, agar kita mampu membedakan manakah kehendak Allah yang baik, berkenan, dan sempurna. Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita merespon masalah: belajarlah untuk lebih lambat berkata-kata, cepat mengampuni, dan aktif menjaga kerendahan hati di hadapan sesama.
Doa
Tuhan Yesus yang penuh kasih, aku sadar bahwa aku sangat membutuhkan hikmat-Mu dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini. Ampuni aku jika selama ini aku lebih sering mengandalkan kepintaranku sendiri hingga memicu pertengkaran. Ya Roh Kudus, perbaruilah pikiranku dan penuhilah hatiku dengan rasa takut akan Tuhan. Tuntunlah setiap keputusan, tindakan, dan tutur kataku agar senantiasa mendatangkan damai sejahtera dan memuliakan nama-Mu. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
