Daily Devotion, 29 Maret 2026
“Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.’”
(Matius 8:10)
Semua orang percaya pasti punya iman. Namun, yang terpenting adalah seberapa besar iman itu di hadapan Tuhan. Alkitab menilai iman dari keteguhan percaya saat menghadapi kesulitan, bukan dari rutinitas ibadah atau pengetahuan firman.
Yesus jarang mengagumi iman seseorang, menunjukkan iman memiliki tingkatan. Iman besar tampak jelas saat keadaan sulit, bukan saat segalanya lancar.
Iman besar tetap percaya walaupun tidak melihat. Yohanes 20:29 menyebut orang yang tidak melihat tapi percaya sebagai berbahagia. Iman sejati berpegang pada janji Tuhan meski belum terwujud.
Iman besar tetap teguh meski situasi tampak mustahil. Saat Lazarus mati empat hari, Yesus berkata kepada yang percaya akan melihat kemuliaan Allah (Yohanes 11:39-40). Kuasa Tuhan melampaui keadaan manusia (1 Korintus 2:9).
Iman besar tidak goyah meski kenyataan berkata sebaliknya. Ketika orang bilang anak kepala rumah ibadat mati, Yesus tetap meminta percaya (Markus 5:35). Iman berani percaya pada kuasa Tuhan di atas realita.
Iman besar tidak ragu. Markus 11:23 berkata bahwa iman tanpa keraguan punya kuasa luar biasa. Yakobus 1:6 menyebut keraguan membuat iman tidak stabil. Keraguan muncul karena hati belum penuh bersandar pada Tuhan.
Puncak iman besar adalah tetap percaya meski Tuhan seolah tak menolong. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (Daniel 3:17-18) percaya Tuhan mampu menolong, tapi tetap setia meski tidak. Inilah iman murni, iman tanpa syarat.
Iman kecil mudah goyah saat kesulitan (Amsal 24:10), takut walau tahu Tuhan ada (Matius 8:26), dan ragu (Matius 14:31). Iman kecil adalah iman yang belum bertumbuh dan stabil.
Iman harus dilatih dan dikuatkan. Yesus mengatakan iman sekecil biji sesawi bisa memindahkan gunung (Lukas 17:6). Bukan besar kecilnya di awal, tetapi bagaimana iman dipelihara sepanjang hidup.
Iman yang berkenan pada Tuhan adalah iman yang tetap percaya dalam segala keadaan: terlihat atau tidak, masuk akal atau tidak, ditolong atau tidak. Iman ini membuat kita tetap teguh menghadapi badai hidup.
Doa:
Tuhan, ajar aku untuk memiliki iman yang teguh dan tidak bimbang. Mampukan aku percaya kepada-Mu, bukan hanya saat semuanya baik, tetapi juga di tengah kesesakan. Kuatkan hatiku agar tetap bersandar pada kuasa-Mu dalam segala keadaan. Dalam nama Yesus, amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: SOG Ministry
