Berhenti dari Perselisihan

Daily Devotion, 26 Maret 2026

Karena kamu masih manusia duniawi.Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?
(1 Korintus 3:3)

Perselisihan adalah bagian dari kehidupan, bahkan di antara orang percaya. Sumber utamanya bisa keluarga, harta, jabatan, atau pelayanan. Namun, firman Tuhan secara jelas menyebutkan: perselisihan menandakan hidup yang dikuasai oleh kedagingan.

Ketika iri hati dan ego menguasai hati, hubungan dengan orang lain bisa rusak. Intinya, akar dari banyak pertengkaran bukan pada masalahnya, tetapi pada sikap hati yang ingin menang sendiri, seperti ditekankan Yakobus.

Amarah sering menjadi pemicu utama perselisihan. Amsal menegaskan: orang yang mudah marah menimbulkan pertengkaran, tetapi kesabaran meredakan konflik. Inilah sebabnya pengendalian emosi sangat penting untuk mencegah masalah membesar.

Kurang penguasaan diri membuat orang mudah bereaksi. Orang dipimpin Roh Kudus seharusnya bijaksana. Kurangnya kesabaran dan keinginan memahami orang lain sering memperkeruh keadaan.

Perselisihan tidak sekadar merusak hubungan: ia juga menghilangkan damai sejahtera dan sukacita. Inti peringatannya, amarah manusia tidak menghasilkan kebenaran di hadapan Allah. Karena itu, cara yang salah tetap tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Tuhan memanggil orang percaya menjadi pembawa damai. Damai berarti membangun hubungan sehat dan penuh kasih. Tuhan telah mendamaikan manusia melalui Yesus Kristus, sehingga hidup orang percaya harus mencerminkan damai itu.

Sering kali perselisihan muncul karena tidak ada kerelaan untuk mengalah dan keinginan mempertahankan ego. Pesan utamanya, firman Tuhan justru mengajarkan: lebih baik rela dirugikan daripada mempertahankan pertengkaran. Inilah kekuatan rohani sejati.

Jalan keluar dari perselisihan bukan dengan menang berdebat, melainkan dengan menang atas diri sendiri. Pengampunan, pengorbanan, dan menyalibkan ego adalah kunci utama memulihkan hubungan.

Perbedaan pendapat wajar, tidak perlu berakhir pertengkaran. Hamba Tuhan dipanggil bersikap ramah, sabar, dan tidak suka bertengkar. Saat marah, segera redakan agar tidak memberi celah bagi dosa.

Refleksi Hidup:

  • Apakah ada perselisihan yang masih dipertahankan karena ego?
  • Apakah lebih sering ingin menang, atau ingin berdamai?
  • Apakah sudah menjadi pembawa damai dalam lingkungan sekitar?

Doa
Tuhan, ajari kami untuk mengendalikan hati dan emosi. Tuhan, berikan kami kerendahan hati agar kami mau mengampuni, mengalah, dan hidup dalam damai dengan sesama. Tolong jadikan kami berani menjadi pembawa damai yang berkenan di hadapan-Mu. Amin.

Leave a Comment