Pendahuluan
Persembahan persepuluhan seringkali menjadi bahan perdebatan, apakah masih relevan dengan zaman sekarang, atau hanya berlaku khusus untuk orang Israel sehingga bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Kristus tidak diwajibkan memberikan persembahan persepuluhan? Menurut W.R.F. Browning, persembahan perpuluhan adalah “sepersepuluh dari pendapatan tahunan, yang dipisahkan untuk maksud-maksud keagamaan”. Pengertian tersebut sesuai dengan mandat biblika dalam kitab Ulangan 14:22. Jadi persembahan persepuluhan itu diambilkan dari pendapatan, bukan dari pengeluaran, termasuk juga jika ada pengumpulan dana bagi suatu kegiatan di gereja, dana yang masuk dikategorikan sebagai bagian dari pengeluaran untuk pembiayaan kegiatan tersebut sehingga berdasarkan prinsip biblika tidak menjadi sasaran dari persembahan persepuluhan.
Terlebih dulu mari kita melihat di dalam Alkitab apa yang menjadi ketetapan Tuhan mengenai persembahan persepuluhan ini. Secara umum ajaran gereja mengenai persembahan persepuluhan biasanya mengacu pada Kitab Maleakhi 3: 8-10 tanpa menjelaskan secara rinci asal mula munculnya persembahan persepuluhan.
Sejarah dan Perkembangan Persembahan Persepuluhan Menurut Alkitab
Menurut Alkitab, orang yang pertama kali memberikan persembahan persepuluhan adalah Abraham (Kejadian 14:18-20). Abraham memberikan persepuluhan kepada raja Melkisedekh, seorang raja dan imam Tuhan yang maha tinggi. Melkisedekh datang menyambut Abraham dan memberkati Abraham atas nama Tuhan yang maha tinggi. Setelah menerima berkat, Abraham memberikan persembahan persepuluhan kepada Melkisedekh. Abraham hanya memberikan persembahan persepuluhan kepada Melkisedekh hanya untuk kali itu saja. Persembahan persepuluhan kepada Melkisedekh juga bersifat pribadi, Abraham tidak mengajarkan secara tradisi untuk mewajibkan memberikan persembahan persepuluhan terhadap anak-anaknya.
Selanjutnya kita melihat dalam kitab Kejadian 28:20-22, Yakub berjanji memberikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan untuk setiap berkat yang dia terima seumur hidupnya sebagai janji ucapan syukur atas atas perlindungan Tuhan. Yakub juga tidak mewajibkan anak-anaknya untuk turut memenuhi janjinya tersebut.
Dari kedua catatan Alkitab tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa persembahan persepuluhan merupakan persembahan ucapan syukur dan belum menjadi ketetapan atau kewajiban, masih bersifat sukarela atas kesadaran diri atas berkat dan perlindungan Tuhan yang diterima.
Ketetapan Hukum Taurat Mengenai Persepuluhan
Ketika Musa mulai memimpin bangsa Israel, mulailah persembahan persepuluhan menjadi suatu ketetapan bagian dari tradisi ibadah wajib. Kitab Bilangan 18:26-29 menyebutkan bahwa Tuhan memberikan penerimaan persepuluhan kepada bani Lewi sebagai balasan untuk pekerjaan pelayanan mereka di kemah suci. Tuhan hanya memberikan persembahannya, bukan hak penerimaan persembahan persepuluhan (Maleakhi 3:8-10) jadi hak atas persembahan persepuluhan tetap sepenuhnya menjadi milik Tuhan tetapi pengelolaannya diserahkan kepada bani Lewi. Ini juga menjadi satu jaminan Tuhan atas pemeliharaan kehidupan bani Lewi yang secara penuh (full timer) menjadi pelayan di kemah suci. Tuhan membuat ketetapan bahwa bani Lewi juga harus memberikan persembahan persepuluhan (ayat 26). Jadi ketika awal memasuki tanah perjanjian, kehidupan suku Lewi sepenuhnya dicukupi dengan adanya persembahan persepuluhan dan persembahan khusus lainnya karena mereka tidak mendapat tanah hak milik untuk digarap. Namun ketika persembahan-persembahan tersebut tidak dilakukan, maka orang-orang dari suku Lewi bisa saja bekerja di ladang yang dipinjamkan kepada mereka baik untuk bertani atau menggembalakan ternak sehingga pekerjaan mereka di Kemah Pertemuan menjadi terabaikan. (Nehemia 13:10).
“Persepuluhan adalah Hak Tuhan, bukan hak bani Lewi”
Dalam prakteknya, orang Israel memberikan persembahan persepuluhan ini setahun sekali (Ulangan 14:22), namun di tahun ketujuh (tahun Sabat) orang Israel tidak memberikan persepuluhan (Imamat 25:4-5). Tuhan juga mengatur mengenai persepuluhan yang ditukar dalam bentuk uang (Ulangan 14:25-26) untuk memudahkan mempersembahan persepuluhan bagi bangsa Israel yang tempat tinggalnya jauh. Seiring perkembangan waktu, persembahan persepuluhan diberikan dalam bentuk uang dan berlanjut hingga zaman sekarang. Apakah ada sanksi jika tidak memberikan persepuluhan? Ternyata tidak ada sanksi jika tidak memberikan persembahan persepuluhan ini.
Konteks Persepuluhan di Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru, hukum Tuhan mengenai perpuluhan ini tidak pernah dibatalkan. Pada zaman Perjanjian Baru, orang Israel masih memberikan persembahan persepuluhan dan Yesus sendiri menyatakan tidak menghapuskan praktek persembahan persepuluhan ini (Matius 23:23), namun Tuhan Yesus menyatakan bahwa dalam persembahan persepuluhan tersebut harus tetap memperhatikan aspek penting seperti keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Selanjutnya tidak ditemukan secara tegas mengenai pembatalan persembahan persepuluhan ini, namun Rasul Paulus mengajarkan dalam memberi persembahan haruslah sesuai dengan apa yang diperoleh (1 Korintus 16:1-2) sesuai dengan kemampuan dan kerelaan hati (2 Korintus 9:7) karena dengan pengorbanan Yesus Kristus dalam karya penebusan manusia, hukum Musa tidak berlaku lagi bagi orang yang percaya kepada Kristus Yesus.
Dari penjelasan tersebut maka bisa disimpulkan bahwa hukum persembahan persepuluhan itu harus dilandaskan atas kesukarelaan supaya tidak dipahami hanya sebagai kewajiban semacam upeti. Dengan adanya korban Kristus maka hukum Musa termasuk persepuluhan juga dibatalkan (Efesus 2:15; Galatia 2:19). Oleh karena itu persembahan persepuluhan berubah konsep menjadi persembahan khusus berdasarkan kemampuan, kerelaan dan ucapan syukur. Konsep persembahan khusus ini merupakan dampak penggenapan hukum taurat di dalam diri Tuhan Yesus Kristus.
Apakah Bangsa Israel Masih Melakukan Praktek Persembahan Persepuluhan?
Di masa sekarang bangsa Israel tidak bisa mempraktekkan pemberian persembahan persepuluhan ini. Orang-orang Yahudi, baik yang menjadi rabbi (pemuka agama Yahudi) maupun orang-orang Yahudi pada umumnya tidak bisa mempraktekkan persepuluhan, bahkan jika mereka memberikan persembahan persepuluhan, maka di kalangan mereka itu merupakan suatu pelanggaran terhadap firman Tuhan. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang menjadi dasar argumen mereka.
- Persembahan persepuluhan harus diberikan kepada bani Lewi
Dalam kehidupan rohani, orang-orang Yahudi dipimpin oleh para rabi di setiap sinagoge, namun tidak semua yang menjadi rabi berasal dari suku Lewi. Oleh karena itu mereka yang menjadi rabi dan bukan yang berasal dari suku Lewi tidak berhak menerima persembahan persepuluhan. Karena menurut hukum Taurat, hanya orang-orang dari suku Lewi yang ditahbiskan untuk menerima persembahan persepuluhan.
Apakah ada orang dari suku Lewi yang menjadi rabi sehingga bisa dilakukan persembahan persepuluhan? Tentu saja ada beberapa rabi yang berasal dari suku Lewi, namun demikian mereka juga tidak bisa menerima persembahan persepuluhan karena tidak ada Bait Suci dan mezbah persembahan.
- Tidak ada Bait Suci dan mezbah persembahan
Dalil selanjutnya mengapa orang Yahudi tidak memberikan persembahan persepuluhan ialah tidak adanya Bait Suci. Dalam pemahaman mereka, sinagoge bukanlah Bait Suci, karena Bait Suci yang dimaksud ialah Bait Suci sama seperti yang dibangun oleh Musa (tabernakel), sama seperti yang dibangun oleh raja Salomo. Jika melihat keadaan negara Israel saat ini, jelas bahwa Bait Suci yang mereka maksud itu tidak ada, oleh karena persembahan persepuluhan harus dibawa ke hadapan Tuhan dalam Bait Suci, dan saat ini Bait Suci itu tidak ada, serta tidak ada imam dari suku Lewi yang bertugas menerima persembahan persepuluhan maka persembahan persepuluhan tidak bisa dilakukan. Ini adalah suatu bentuk ketaatan terhadap Hukum Taurat, justru jika orang Yahudi memberikan persembahan persepuluhan akan dipandang berdosa, melanggar ketentuan hukum Tuhan mengenai tata cara persembahan persepuluhan.
Implementasi Persembahan Persepuluhan di Dalam gereja
Tidak dipungkiri bahwa banyak pengkhotbah dan gereja yang mengajarkan mengenai persembahan persepuluhan. Pengajaran mengenai persembahan khusus atau persepuluhan ini harus didasarkan pada ungkapan syukur dan kerelaan, bukan dengan ancaman dihukum oleh Tuhan atau ancaman tidak diberkati. Bila suatu gereja akan mengadopsi persembahan persepuluhan ini sesuai dengan apa yang menjadi ketentuannya dalam hukum taurat, atau dengan penambahan perspektif penafsiran modern maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
- Kapan persembahan persepuluhan diberikan?
Menurut Alkitab terutama ketentuan hukum taurat, persembahan persepuluhan itu diberikan setahun sekali (Ulangan 14:22). Namun jika mencontoh Yakub, persembahan persepuluhan diberikan atas setiap berkat yang diterima, inilah yang kemudian diterapkan dan diajarkan di gereja-gereja pada umumnya. Jadi persembahan persepuluhan bisa diberikan secara tahunan, bulanan atau seketika setelah memperoleh berkat berdasarkan kerelaan dari jemaat yang mempersembahkan.
- Kepada siapa persembahan persepuluhan diserahkan?
Menurut hukum taurat, persepuluhan diserahkan kepada suku Lewi sesuai dengan yang ditetapkan oleh Tuhan. Kemudian dengan berkembangnya zaman dan peradaban, persembahan persepuluhan diserahkan ke dalam rumah perbendaharaan (Maleakhi 3:10).
Jadi menurut Maleakhi 3:10, sudah ada pengaturan manajemen mengenai penerimaan persepuluhan. Jika gereja modern mengadopsi perpuluhan, maka persembahan persepuluhan tersebut diserahkan kepada perbendaharaan, dimana dalam organisasi modern jabatan ini dipegang oleh bendahara gereja/sinode. Jadi persembahan persepuluhan TIDAK diserahkan kepada pemimpin gereja, gembala sidang ataupun ketua sinode jika berpegang pada peraturan firman Tuhan dalam Maleakhi 3:10 tersebut.
“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
(Maleakhi 3:10)
- Peruntukan persembahan persepuluhan
Dalam hukum taurat, peruntukan persembahan persepuluhan adalah untuk membalas pekerjaan suku Lewi dalam pekerjaan mereka di Kemah Pertemuan.
“Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan.”(Bilangan 18:21)
Berdasarkan ayat tersebut maka setiap bani Lewi yang bekerja di Kemah Pertemuan baik sebagai imam ataupun pelayan berhak menerima atau turut menikmati persembahan persepuluhan. Pelayan yang dimaksud ialah orang-orang dari bani Lewi yang terlibat dalam pekerjaan di Kemah Pertemuan sebagai asisten imam (1 Tawarikh 23:4,28), anggota tim pujian (1 Tawarikh 25:7-31), musisi (1 Tawarikh 23:5), penunggu pintu (1 Tawarikh 26:1-19), perawat perbendaharaan (1 Tawarikh 26:20-28), dan petugas administrasi dan peradilan negara (1 Tawarikh 26:29-32).
Sedangkan bagian dari imam besar, yakni Harun terkait dengan persepuluhan, Tuhan menyatakan bahwa ada persembahan yang dikhususkan bagi Harun, yakni sebesar sepersepuluh dari persembahan persepuluhan yang diterimakan kepada bani Lewi. Jadi Harun hanya menerima sebesar sepersepuluh dari persembahan persepuluhan untuk kebutuhan pribadi keluarganya.
Implementasi terhadap gereja modern ialah bahwa setiap orang yang turut terlibat dalam suatu pelayanan berhak atas persembahan persepuluhan tersebut, baik sebagai pelayan mimbar (pendeta), pemimpin pujian, pemusik, usher, petugas administratif, pelayan multimedia, maupun bagian pekerjaan lain yang mendukung pelaksanaan pekerjaan Tuhan dalam gereja. Dengan demikian maka persepuluhan bukanlah hak eksklusif pribadi pemimpin gereja.
Selain untuk pelayan pekerjaan Tuhan, persembahan persepuluhan juga diperuntukkan untuk dibagikan kepada jemaat atau orang-orang yang tidak mampu (Ulangan 14:28-29) pada akhir setiap tiga tahun. Jadi ada alokasi untuk dana diakonia dari persembahan persepuluhan tersebut.
Dengan banyaknya kasus penyalahgunaan persembahan jemaat untuk kepentingan pribadi pengurus atau pemimpin gereja, maka sebaiknya gereja mengatur mengenai pemanfaatan persembahan persepuluhan dalam tata aturan gereja atau AD/ART supaya ada kejelasan, kemanfaatan, transparasi dan memperkecil peluang terjadinya penyalahgunaan hasil persembahan persepuluhan ataupun persembahan-persembahan lainnya dari jemaat untuk kepentingan pribadi atau keluarga pengurus atau pemimpin gereja.
Kesimpulan
Persembahan persepuluhan dalam konteks gereja modern tetap dilakukan dengan menekankan pada aspek ucapan syukur, ketaatan, kerelaan dan sukacita bukan didasari oleh ancaman, motif memperoleh berkat berlimpah atau dipandang sebagai kewajiban yang ada sanksinya. Gereja harus bisa mengajarkan secara lengkap dan rinci mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan lainnya supaya jemaat bisa memahami, dan bisa memberikan persembahan dengan pengertian yang benar dan sukacita.
Persembahan persepuluhan dalam gereja modern bukanlah tentang memenuhi kuota legalistik, melainkan ekspresi syukur atas pemeliharaan Tuhan yang tak berkesudahan. Mari kita membangun gereja yang sehat dengan mengelola persembahan secara transparan melalui sistem perbendaharaan yang akuntabel, sehingga setiap alokasi—baik untuk kesejahteraan pelayan maupun dana diakonia bagi yang membutuhkan untuk memuliakan nama Tuhan dan memperluas Kerajaan-Nya di bumi
Penulis : Anno Nendra Dinata
Editor : SOG Ministry
