“Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’”
(Matius 16:15)
Pertanyaan Yesus ini sebenarnya bukan cuma untuk murid-murid-Nya waktu itu. Pertanyaan ini juga ditujukan kepada kita hari ini: “Menurutmu, siapa Aku?”
Banyak orang mengenal Yesus dari cerita, khotbah, buku, atau kebiasaan ibadah. Mereka tahu Yesus adalah Mesias, Juru Selamat, Anak Allah, Immanuel, Guru, Tuhan, bahkan Raja. Semua itu benar. Alkitab memang menyatakan Yesus dengan begitu jelas. Tetapi renungan hari ini mengajak kita masuk lebih dalam: bukan hanya tahu siapa Yesus menurut orang lain, tetapi mengalami sendiri siapa Yesus dalam hidup kita.
Iman yang kuat lahir bukan hanya dari pengetahuan, tetapi dari perjumpaan pribadi dengan Kristus. Ada orang yang mengenal Yesus hanya sebatas nama. Ada juga yang mengenal-Nya sebagai Tuhan yang benar-benar pernah menolong, memulihkan, mengampuni, dan mengubahkan hidupnya. Di situlah bedanya. Ketika seseorang punya pengalaman pribadi dengan Yesus, imannya tidak lagi sekadar ikut-ikutan. Imannya menjadi hidup.
Di Alkitab, orang-orang punya sebutan yang berbeda-beda tentang Yesus. Petrus menyebut Dia Mesias, Anak Allah yang hidup. Ada yang mengenal Dia sebagai Raja orang Yahudi. Ada yang menyebut Dia Juru Selamat, Immanuel, Anak Tunggal Allah, Anak Domba Allah, Nabi, Guru, dan Tuhan. Semua itu menunjukkan bahwa Yesus bukan pribadi biasa. Dia adalah pusat keselamatan, sumber pengharapan, dan Tuhan yang sanggup menjamah hidup manusia.
Tetapi setelah mengetahui semua gelar itu, tetap ada satu pertanyaan yang paling penting: siapa Yesus bagimu secara pribadi?
Bagi sebagian orang, Yesus adalah Penolong saat mereka ada di titik terendah. Bagi yang lain, Yesus adalah Bapa yang memeluk ketika hidup terasa sepi. Ada yang mengenal Yesus sebagai Sahabat sejati, Gembala yang menuntun, atau Juruselamat yang mengangkat mereka dari masa lalu yang gelap.
Dan itulah indahnya hubungan dengan Tuhan. Yesus tidak hanya ingin dikenal lewat teori. Dia ingin dialami.
Kalau boleh memakai gambaran yang sederhana dan jujur: Yesus adalah seperti Pribadi yang datang memungut hidup kita yang kotor, berantakan, dan tidak layak. Saat kita merasa seperti “sampah”, gagal, berdosa, dan tidak berguna, Dia tidak membuang kita. Sebaliknya, Dia mengambil, membersihkan, memulihkan, lalu menjadikan kita alat yang berharga di tangan-Nya. Itulah kasih Yesus. Dia datang bukan untuk orang yang merasa dirinya paling benar, tetapi untuk orang berdosa yang mau bertobat. Seperti firman-Nya dalam Lukas 5:32: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Yesus sanggup mengubah hidup yang paling rusak sekalipun. Dia tidak jijik dengan masa lalu kita. Dia tidak mundur karena luka-luka kita. Dia tidak menolak kita karena dosa dan kegagalan kita. Justru Dia datang mendekat, mengampuni, membersihkan, dan memberi hidup yang baru.
Karena itu, jangan puas hanya dengan tahu tentang Yesus. Mintalah supaya kita sungguh mengenal-Nya secara pribadi. Sebab ketika kita mengalami Yesus secara nyata, iman kita akan bertumbuh, hati kita diubahkan, dan hidup kita mulai berbuah.
Oleh: Pdt Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: SOG Ministry
