Daily Devotion, 4 Juli 2026
Pernahkah Anda tiba-tiba meledak marah lalu menyesal dan berpikir, “Kenapa aku bisa seegois atau seemosional itu?” Gejolak amarah, ego, atau rasa iri yang tiba-tiba muncul itulah “monster” kedagingan yang kerap bersembunyi dalam diri kita.
Menariknya, Tuhan sering memakai orang lain di sekitar kita untuk memancing monster ini keluar agar kita menyadarinya. Seperti tertulis dalam Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Gesekan relasi dengan sesama sebenarnya adalah kesempatan yang Tuhan izinkan untuk menyingkapkan area hati kita yang belum beres. Namun, sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak boleh membiarkan monster kedagingan ini mengambil alih kendali hidup kita. Firman Tuhan dalam Galatia 5:24 dengan tegas mengingatkan: “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Kita dipanggil untuk menyalibkan tabiat lama tersebut dan menggantinya dengan karakter ilahi melalui perenungan firman yang konsisten, agar hidup kita senantiasa dipenuhi kedamaian dan kelimpahan berkat-Nya.
Refleksi Hidup
Mari kita introspeksi diri hari ini. Bagaimana ucapan dan sikap kita saat disakiti orang lain, atau saat melihat keberhasilan sesama? Apakah tindakan kita sudah mencerminkan kasih, atau justru monster amarah dan iri hati yang menang? Mulai hari ini, mari kita ubah respons kita agar selaras dengan kebenaran firman Tuhan. Ketika amarah timbul karena dijahati, ingatlah perintah-Nya: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:21). Saat rasa iri mulai menyelinap melihat kesuksesan orang lain, lawanlah segera dengan melatih hati yang “Mengucap syukurlah dalam segala hal” (1 Tesalonika 5:18). Begitu pula saat rasa takut dan kuatir melanda, pilihlah untuk percaya penuh pada pemeliharaan-Nya. Setiap kali sifat kedagingan kita terpancing keluar, ambil jeda sejenak, tunduklah kepada Allah, dan penuhi pikiran dengan firman-Nya. Dengan demikian, sifat-sifat lama itu akan sirna dan digantikan oleh kehidupan yang berbuah manis bagi sesama.
Doa
Tuhan Yesus, aku menyerahkan seluruh hidup dan hatiku ke dalam tangan-Mu. Ampuni aku jika selama ini ego dan kedaginganku masih sering memberontak dan mendukakan hati-Mu. Roh Kudus, penuhilah aku dengan kelembutan, kesabaran, dan penguasaan diri yang baru. Mampukan aku untuk selalu menyalibkan setiap keinginan daging dan merespons setiap keadaan sesuai dengan firman-Mu. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
