Daily Devotion, 25 Juni 2026
Pernahkah Anda membayangkan seseorang dengan sangat antusias memberikan petunjuk jalan kepada Anda, padahal matanya sendiri tertutup rapat dan ia sedang melangkah menuju tepi jurang? Tentu Anda akan ragu untuk mengikutinya, bukan? Ilustrasi sederhana ini sangat pas untuk merenungkan teguran Yesus dalam Matius 15:14, “Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”
Dalam keseharian kita, betapa seringnya kita begitu fasih menceritakan tentang kasih, pengampunan, dan kebaikan Tuhan, tetapi tindakan nyata kita justru bertolak belakang. Dunia hari ini sudah terlalu lelah mendengar kata-kata manis; mereka rindu melihat bukti nyata dari Injil yang mengubah kehidupan. Jangan sampai kita menjadi penuntun rohani yang buta. Saat kita mulai bertindak dan menghidupi firman Tuhan dengan ketaatan penuh, hidup kita dengan sendirinya menjadi khotbah tanpa suara yang akan menuntun banyak orang secara aman ke dalam terang kasih-Nya.
Refleksi Hidup
Mari sejenak kita duduk diam dan bertanya secara jujur pada diri sendiri: Apakah perkataan, tindakan, dan sikapku saat tidak ada orang yang melihat sudah benar-benar mencerminkan Kristus? Ataukah aku masih lantang berbicara soal pengampunan, namun terus menyimpan dendam di dalam hati?
Alkitab memanggil kita pada perubahan yang nyata. Sebelum kita sibuk mencari dan memperbaiki kesalahan sesama, mari kita bersihkan hati kita lebih dulu. Lukas 6:42 mengingatkan kita dengan keras agar mengeluarkan “balok” dari mata kita sendiri sebelum membantu mengeluarkan “selumbar” di mata saudara kita. Jangan sampai hidup kita menjadi ironi seperti teguran di Titus 1:16, di mana kita mengaku mengenal Allah, namun perbuatan kita sehari-hari justru menyangkal Dia.
Aplikasi praktisnya dimulai hari ini. 1 Yohanes 3:18 menasihati, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Mari mulai jujur pada diri sendiri, lepaskan kesombongan, bermurah hatilah kepada yang kekurangan, dan tawarkan pengampunan. Biarlah ketaatan kita menyelaraskan ucapan dan perbuatan, sehingga hidup kita sungguh-sungguh menyenangkan hati Tuhan.
Doa
Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih untuk pengingat-Mu yang menyentuh hatiku hari ini. Ampunilah aku jika selama ini perkataan dan perbuatanku masih sering bertolak belakang. Ya Roh Kudus, tolonglah aku untuk tidak sekadar menjadi pendengar yang lupa, melainkan pelaku firman yang setia. Aku menyerahkan hati dan hidupku sepenuhnya ke dalam tangan-Mu. Mampukan aku mempraktikkan kasih, kerendahan hati, dan pengampunan yang tulus, agar siapapun yang melihat hidupku dituntun untuk mengenal kasih-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
