Daily Devotion, 17 Mei 2026
Pernahkah Anda melihat seseorang yang tampak begitu rohani saat di atas mimbar atau di depan umum, namun saat kembali ke rumah atau dalam kesehariannya, perilakunya justru sangat jauh dari kasih Kristus? Tantangan ini bukan hanya milik para pemimpin besar, tapi milik kita semua yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Rasul Paulus memberikan teguran yang sangat dalam di Galatia 1:10: “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.“
Menjadi hamba Tuhan bukan soal gelar, melainkan soal kepada siapa hati kita berpaut. Di tengah dunia yang serba kompetitif, sering kali kita terjebak menjadi “hamba duniawi”—masih mengejar keuntungan pribadi, egois, atau bahkan menyimpan dendam yang belum terselesaikan.
Menjadi hamba Kristus berarti berani tampil beda dari dunia. Jangan biarkan “perut” atau kepentingan pribadi menjadi tuhan dalam hidup kita. Pilihlah untuk menyenangkan hati Allah melalui ketaatan pada hukum, kejujuran dalam ucapan, dan kehangatan dalam pelayanan.
Refleksi Hidup
Mari kita menoleh sejenak ke dalam rumah dan hati kita. Apakah perkataan Anda kepada pasangan dan keluarga sudah mencerminkan kasih? 1 Timotius 3:5 mengingatkan, “Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” Kesetiaan dan ketulusan dimulai dari meja makan dan ruang tamu kita, bukan hanya di ruang ibadah.
Sudahkah kita melayani dengan tulus, ataukah masih ada sifat “serakah” yang terselip untuk keuntungan diri sendiri? Sebagai hamba-Nya, kita dipanggil untuk tidak bertengkar, melainkan ramah terhadap semua orang (2 Timotius 2:24). Jika hari ini Anda masih merasa sulit mengampuni atau mudah tersulut amarah, ingatlah bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran Allah. Marilah kita belajar menanggalkan manusia lama yang suka berdusta dan mulai mengenakan kejujuran dalam segala hal agar kita benar-benar dapat dipercayai sebagai pelayan Kristus (1 Korintus 4:2).
Doa
Tuhan Yesus, ampunilah aku jika selama ini aku masih lebih sering mencari kesukaan manusia daripada kesenangan-Mu. Roh Kudus, tolonglah aku agar dapat mengepalai keluargaku dengan kasih, menjauhkan diri dari keserakahan, dan melepaskan setiap dendam di hatiku. Jadikanlah aku hamba-Mu yang setia, jujur, dan taat, sehingga hidupku sungguh menjadi teladan yang memuliakan nama-Mu. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
