Daily Devotion, 18 Mei 2026
Pernahkah Anda menerima pertolongan yang begitu luar biasa hingga rasanya ingin berteriak memberi tahu seluruh dunia? Mungkin saat sembuh dari sakit kritis, atau ketika beban finansial tiba-tiba terangkat. Namun, sering kali saat waktu berlalu, kita justru menjadi diam. Kita menikmati pemulihan-Nya secara personal, namun lupa membagikannya.
Lukas 8:39 berkata, “Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.”
Yesus tidak meminta orang yang baru disembuhkan-Nya itu untuk menghafal seluruh hukum Taurat sebelum berbicara. Ia hanya meminta satu hal: berceritalah.
Hidup Anda adalah “surat pujian” yang dibaca oleh semua orang (2 Korintus 3:2). Setiap luka yang Tuhan sembuhkan dan setiap air mata yang Ia hapus adalah pesan pengharapan bagi jiwa-jiwa di sekitar Anda yang mungkin sedang nyaris menyerah. Jangan simpan kebaikan itu sendiri; jadilah saluran berkat melalui cerita hidup Anda.
Refleksi Hidup
Sering kali kita merasa tidak layak bersaksi karena merasa bukan pengkhotbah yang hebat. Padahal, penginjilan terbaik bukanlah debat teologi yang rumit, melainkan cerita jujur tentang bagaimana Tuhan menjamah hidup Anda. Mengapa kesaksian Anda begitu berharga?
Pertama, karena pengalaman pribadi tidak bisa dibantah. Ingat orang buta yang disembuhkan dalam Yohanes 9:11? Ia hanya berkata, “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah… aku membasuh diriku, dan aku dapat melihat.” Orang boleh berdebat tentang doktrin, tapi mereka tidak bisa menyangkal perubahan nyata dalam hidup Anda.
Kedua, besarnya syukur berbanding lurus dengan semangat. Lukas 7:47 mengingatkan bahwa orang yang merasa banyak diampuni, akan lebih banyak berbuat kasih. Jika hari ini Anda merasa hambar, cobalah ingat kembali dari lubang mana Tuhan telah mengangkat Anda.
Mari renungkan: Apakah tutur kata dan sikap kita di kantor, di rumah, atau di media sosial sudah menjadi “injil yang terbuka”? Jangan sampai kita menjadi orang yang menikmati berkat-Nya, namun malu mengakui nama-Nya di depan orang lain (Lukas 9:26). Kesaksian kita bukan untuk pamer kesucian, melainkan untuk memamerkan kebaikan Kristus agar orang lain yang sedang terluka juga bisa menemukan jalan pulang.
Doa
Bapa Surgawi, terima kasih atas setiap pemulihan dan kasih-Mu yang nyata dalam hidupku. Ampuni aku jika selama ini aku lebih sering mengeluh daripada menceritakan kebaikan-Mu. Roh Kudus, berikanlah aku keberanian untuk bersaksi melalui perkataan dan perbuatanku. Biarlah hidupku menjadi alat-Mu agar orang lain mengenal kasih-Mu melalui ceritaku. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto,M.Th
Editor: Andra
