Daily Devotion, 26 Mei 2026
Pernahkah Anda memperhatikan seorang anak kecil yang berjalan di samping ayahnya? Seringkali, tanpa disadari, sang anak meniru gaya berjalan, cara bicara, bahkan selera humor ayahnya. Hubungan darah menciptakan kemiripan yang alami. Begitu pun dengan kita. 2 Korintus 6:18 berkata: “Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”
Masalahnya, banyak dari kita bangga menyandang status “Kristen”, namun hidup kita tidak mencerminkan wajah Sang Bapa. Kita mengaku anak, tapi tutur kata kita masih penuh amarah, hati kita menyimpan dendam, dan tangan kita enggan berbagi. Menjadi manusia adalah masalah kelahiran biologis, namun menjadi anak Allah adalah sebuah keputusan untuk hidup dalam identitas yang baru. Jangan sampai di akhir zaman nanti, Tuhan justru berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu,” hanya karena wajah rohani kita tidak sedikit pun mirip dengan-Nya.
Refleksi Hidup
Mari sejenak bercermin. Jika orang lain melihat hidup Anda hari ini—cara Anda bekerja, cara Anda merespons kegagalan, atau cara Anda memperlakukan asisten rumah tangga—apakah mereka bisa melihat bayangan Tuhan di sana? Identitas sebagai anak Allah bukanlah kartu nama yang kita simpan di dompet, melainkan buah yang nyata dalam keseharian.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa tanda anak Allah adalah hidup yang dipimpin oleh Roh, bukan oleh keinginan daging. Roma 8:14 menegaskan: “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Saat Anda memilih untuk jujur ketika ada kesempatan berbohong, atau memilih mengampuni saat hati terluka, di situlah identitas Anda bersinar. Ingatlah, kita adalah pembawa damai. Seperti kata Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Mulailah hari ini dengan melepaskan satu kebiasaan buruk—mungkin itu egois atau suka berdusta—dan gantilah dengan kasih yang tulus.
Doa
Ya Abba, ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah mengangkatku menjadi anak-Mu. Ampuni aku jika selama ini identitasku sebagai anak-Mu tertutup oleh egoku, amarahku, dan ketidaktaatanku. Tuhan, lembutkanlah hatiku. Roh Kudus, tuntunlah setiap langkahku agar perkataan dan perbuatanku selaras dengan kehendak-Mu. Aku ingin dunia melihat Engkau melalui hidupku. Biarlah aku tetap dikenal sebagai anak-Mu yang setia sampai akhir. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
