Khotbah yang Menjadi Nyata

Renungan Harian, 13 September 2026

Pernahkah Anda berdiri di depan sebuah kelas, mungkin sebagai seorang pengajar tamu atau fasilitator, lalu menyadari bahwa audiens tidak hanya mendengarkan teori yang Anda sampaikan, tetapi diam-diam mereka juga mengamati apakah hidup Anda benar-benar mencerminkan materi tersebut? Dalam perjalanan rohani, panggilan untuk memberitakan kabar baik sering kali disalahpahami hanya untuk mereka yang berdiri di balik mimbar gereja. Padahal, kita semua adalah utusan-Nya di ladang profesi kita masing-masing.

Firman Tuhan dalam Roma 10:15 berseru, “Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’” Menjadi penginjil yang benar tidak selalu tentang seberapa fasih kita merangkai kata. Ini tentang membawa pesan damai itu ke dalam realitas sehari-hari—melayani tanpa menuntut pujian, tetap setia ketika menghadapi perlakuan yang tidak adil, dan membagikan kebaikan secara cuma-cuma. Pada akhirnya, khotbah yang paling indah dan berdampak adalah kehidupan Anda sendiri yang terus diubahkan oleh kasih Kristus. Mari pastikan hidup kita menjadi “kabar baik” yang bisa dibaca dan dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Refleksi Hidup
Mari sejenak menguji keselarasan antara ucapan dan perbuatan kita: apakah nasihat rohani atau nilai positif yang sering kita bagikan kepada orang lain sudah benar-benar kita praktikkan? Ataukah kita masih sering lepas kendali, mudah mengeluh, dan mencari keuntungan pribadi di balik pelayanan? Sebagai utusan Tuhan, kita dipanggil untuk memiliki integritas yang utuh. Ingatlah pesan tegas ini: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak(1 Korintus 9:27).

Secara praktis, mulailah dari lingkup terkecil Anda hari ini. Hiduplah murni tanpa kepalsuan, sebab firman-Nya mengingatkan, “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu(1 Timotius 4:12b). Ketika Anda membagikan waktu, tenaga, atau kemampuan Anda, lakukanlah dengan hati yang tulus tanpa pamrih, karena “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma(Matius 10:8).

Doa
Tuhan Yesus yang baik, terima kasih atas anugerah keselamatan yang telah kuterima secara cuma-cuma. Ampunilah aku jika selama ini perkataan dan perbuatanku masih belum selaras, sehingga belum bisa menjadi saksi-Mu yang baik. Ya Roh Kudus, penuhilah aku dengan kuasa-Mu. Tolong aku untuk menguasai diriku dan menjadi teladan yang hidup, agar melalui kehadiranku, orang lain dapat merasakan kasih-Mu yang sejati. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra

Leave a Comment