Renungan Harian, 14 Agustus 2026
Pernahkah Anda menerima pesan penting dari seseorang, namun sengaja menunda untuk membalasnya karena merasa lelah atau malas? Dalam perjalanan rohani, kita sering kali memperlakukan firman Tuhan dengan cara yang persis sama. Kita mendengarnya berulang kali di gereja, namun kita lambat dalam mengambil tindakan nyata. Firman Tuhan dalam Ibrani 5:11 dengan lembut namun tegas mengingatkan kita, “Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.“
Ketika Tuhan berbicara—entah itu dorongan halus untuk mengampuni, panggilan untuk menolong sesama, atau teguran untuk segera bertobat—Ia merindukan ketaatan kita yang segera. Ketaatan yang terus-menerus ditunda sesungguhnya adalah bentuk ketidaktaatan, yang sering kali membuat kita kehilangan momen berharga untuk mengalami anugerah-Nya. Jangan biarkan kerohanian kita menjadi pasif. Mulai hari ini, mari kita bangkit dari kelambanan, merespons panggilan-Nya dengan cepat, dan bertindak sebagai pelaku firman agar hidup kita sungguh-sungguh memuliakan nama-Nya.
Refleksi Hidup
Mari kita merenung sejenak ke dalam batin kita. Saat Tuhan melembutkan hati Anda untuk berdamai dengan seseorang yang bersalah, apakah Anda segera melakukannya, atau justru memilih memeluk erat gengsi dan ego Anda? Terkadang, sikap dan respons harian kita belum mencerminkan kesetiaan yang menyala-nyala kepada Tuhan. Alkitab menasihatkan kita dengan sangat menyentuh hati, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Roma 12:11). Secara praktis, mari latih diri kita mulai hari ini untuk memiliki “respons cepat” terhadap kehendak-Nya. Jika ada luka yang masih tersimpan, lepaskanlah pengampunan itu sekarang juga, mengingat perintah-Nya, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:22). Jangan pernah menunda untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan di sekitar Anda, “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah” (Ibrani 13:16). Jadilah pribadi yang responsif, penuh kasih, dan senantiasa rindu menyenangkan hati Tuhan setiap saat.
Doa
Bapa yang sungguh baik, ampunilah aku jika selama ini aku sering lamban dan terlalu banyak menunda untuk menaati firman-Mu. Ya Roh Kudus, jamahlah hatiku agar aku senantiasa memiliki roh yang menyala-nyala. Mampukan aku untuk lebih cepat merespons suara-Mu—cepat dalam melepaskan pengampunan, giat menabur kebaikan, dan tulus mengasihi sesamaku. Di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
