Renungan Harian, 2 Agustus 2026
Pernahkah Anda melihat sebuah ponsel yang casing luarnya tampak sangat mewah dan bermerek, tetapi saat dihidupkan, sistem di dalamnya ternyata palsu dan lambat? Secara penampilan luar ia terlihat meyakinkan, namun secara fungsi ia sama sekali tidak normal. Hal yang mirip bisa terjadi dalam kehidupan rohani kita. Rasul Paulus menegur keras gaya hidup bermuka dua ini dalam 2 Timotius 3:5, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.“
Sering kali, kita merasa sudah menjadi orang Kristen yang baik hanya karena rutin hadir di gereja. Padahal, standar “normal” di mata Tuhan bukanlah sekadar aktivitas agama, melainkan keserupaan karakter dengan Kristus. Mari kita tinggalkan gaya hidup rohani yang “abnormal”—seperti menyimpan dendam, terjebak dalam dosa yang diulang-ulang (tobat kumat), atau sekadar mengikuti arus dunia. Jadilah Kristen yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus, agar kelak Tuhan mengenali kita sebagai anak-anak-Nya yang sejati, bukan sekadar label.
Refleksi Hidup
Mari kita periksa hati kita hari ini. Apakah perkataan, respons, dan sikap kita saat menghadapi masalah di rumah atau tempat kerja sudah mencerminkan kasih Kristus? Atau jangan-jangan, kita masih mudah meledak dalam amarah dan membenci orang yang bersalah kepada kita? Ingatlah pesan firman Tuhan: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yohanes 2:6).
Menjadi Kristen yang “normal” berarti kita bersedia menanggalkan manusia lama. Firman Tuhan menasihatkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2). Secara praktis, mulailah dengan mencintai pembacaan firman-Nya setiap hari, jadikan itu sebagai nutrisi utama jiwa Anda. Ketika ada godaan untuk membalas kejahatan, pilihlah untuk mengampuni, karena Tuhan berpesan, “supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 15:12).
Doa
Bapa yang baik, ampuni aku jika selama ini aku hidup hanya dengan label pengikut-Mu, tetapi pikiran dan tindakanku masih jauh dari karakter-Mu. Aku rindu menyerahkan seluruh hidupku ke dalam tangan-Mu. Ya Roh Kudus, tolonglah aku untuk terus memperbarui budiku. Mampukan aku melepaskan pengampunan, menjauhi hawa nafsu dunia, dan makin mencintai firman-Mu setiap hari. Bentuklah aku menjadi pribadi yang benar-benar serupa dengan Kristus. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
