Renungan Harian, 9 Juli 2026
Pernahkah Anda melihat sebuah karya seni yang indah, dan bertanya-tanya, “Apa maksud seniman ini saat membuatnya?” Sama seperti mahakarya tersebut, keberadaan kita di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan. Sering kali, kita menjalani hari demi hari—bangun pagi, bekerja, lalu beristirahat lagi—tanpa benar-benar menyadari untuk apa kita ada di bumi ini.
Firman Tuhan dalam Kejadian 1:27 mengingatkan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kita adalah rancangan agung Allah! Tuhan membentuk kita bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi untuk menampilkan gambar dan rupa-Nya yang penuh kasih serta mengelola ciptaan-Nya. Ketika kita memahami bahwa tujuan utama kita adalah untuk memuliakan Dia, rutinitas harian kita tidak akan lagi terasa hampa. Kita akhirnya menemukan arah dan jangkar yang pasti. Oleh karena itu, mari kita jalani sisa waktu hidup kita bukan untuk mengejar ambisi pribadi semata, melainkan sebagai karya agung yang senantiasa menyenangkan hati Sang Pencipta.
Refleksi Hidup
Mari sejenak kita bertanya ke dalam diri sendiri: apakah perkataan, tindakan, dan sikap kita belakangan ini sudah mencerminkan kasih, kejujuran, atau kesetiaan kepada Tuhan? Kadang, di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita sangat mudah terbawa arus dunia. Padahal, Efesus 2:10 menegaskan bahwa, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik…” Berbuat baik bukanlah sebuah beban, melainkan identitas sejati kita sebagai anak-anak Allah.
Mulai hari ini, mari kita sesuaikan kembali langkah kita. Jika ada keegoisan yang mendominasi, mari belajar tunduk pada rencana-Nya, mengingat pesan dalam 1 Petrus 4:2, “supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” Lebih jauh lagi, kita ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (Roma 8:29). Jadikanlah kasih Kristus sebagai cermin. Gantikan kata-kata keluhan dengan ucapan syukur, dan ubah sikap apatis menjadi kepedulian nyata yang menyentuh sesama.
Doa
Tuhan Yesus yang sangat baik, terima kasih karena Engkau telah menciptakanku dengan begitu indah dan berharga. Ampunilah aku jika selama ini aku masih sering hidup hanya demi keinginanku sendiri. Kumohon, biarlah Roh Kudus-Mu menolong dan melembutkan hatiku agar aku bisa hidup selaras dengan tujuan-Mu. Mampukan aku untuk terus melakukan pekerjaan baik dan memancarkan karakter-Mu, sehingga hidupku sungguh-sungguh memuliakan nama-Mu. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
