Daily Devotion, 9 Juni 2026
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualis, sering kali kita terjebak untuk hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri. Kita begitu fokus membangun hidup kita, hingga tanpa sadar menutup mata terhadap kondisi orang-orang terdekat kita. Padahal, kekristenan bukan sekadar tentang hubungan vertikal antara kita dengan Tuhan, melainkan juga tentang bagaimana kita merawat hubungan horizontal dengan sesama. Yosua pernah memuji kesetiaan bangsa Israel dalam hal ini:
“Kamu tidak meninggalkan saudara-saudaramu selama waktu ini, sampai sekarang, tetapi kamu setia memelihara perintah TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Yosua 22:3)
Tuhan menghendaki kita setia memelihara tali persaudaraan. Ketika kita mengabaikan saudara seiman atau keluarga yang sedang kesusahan, kita sedang melanggar perintah-Nya yang paling mendasar. Mengasihi sesama adalah bukti nyata bahwa kita telah mengalami kasih Allah terlebih dahulu. Mari kita belajar untuk tidak egois dan mulai membuka hati bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan kita.
Refleksi Hidup
Coba tanyakan pada diri Anda hari ini: Apakah perkataan dan tindakan saya sudah mencerminkan kasih yang tulus kepada saudara-saudara saya? Atau jangan-jangan, saya bersikap acuh tak acuh saat melihat mereka sedang dalam kelemahan?
Alkitab memberikan peringatan yang sangat tegas bagi kita. Dalam 1 Yohanes 4:20 tertulis:
“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta…”
Tuhan bahkan menyamakan sikap mementingkan diri sendiri dengan akar dari segala kekacauan. Jika kita mengaku hidup dalam terang dan keselamatan, bukti utamanya adalah kasih kita kepada sesama (1 Yohanes 3:14).
Secara praktis, mari mulai peka dengan keadaan di sekitar kita. Ketika melihat saudara kita sedang tersesat, kekurangan, atau melakukan kesalahan, jangan menghakimi mereka. Sebaliknya, mari kita topang mereka. Rasul Paulus mengingatkan dalam Roma 15:1:
“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.”
Bantulah kebutuhan jasmani maupun rohani mereka selama kita masih memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Doa
Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih telah mengajarkanku arti kasih persaudaraan yang sejati. Ampuni aku jika selama ini aku masih egois dan mengabaikan saudara-saudariku yang sedang mengalami kesulitan. Lembutkanlah hatiku, Tuhan, agar aku bisa lebih peka terhadap kebutuhan mereka. Ya Roh Kudus, mampukanlah aku untuk membagikan kasih-Mu secara nyata, baik melalui bantuan materi maupun dukungan rohani, sehingga hidupku dapat mendatangkan damai sejahtera bagi sesama. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
