Dalih Manusia

Kita hidup di era yang serba mencari (searching). Google hadir sebagai pintu gerbang pencarian informasi, sementara makna hidup dicari melalui seminar, khotbah hari Minggu, hingga berbagai komunitas sosial. Kitab Pengkhotbah pasal 7 mencatat bahwa Salomo, raja yang dikenal paling berhikmat, juga melakukan pencarian mendalam ini. Apa yang dicarinya? Seluruh pasal ini memuat perjalanan pencarian tersebut, dan kesimpulan dari pengamatan Salomo dirangkum secara tajam dalam ayat 27-29.

  1. Kelelahan dalam Usaha Pencarian (Ayat 27-28)
  2. Meskipun telah mencurahkan banyak energi, apa yang dicari manusia sering kali belum membuahkan hasil (ayat 27). Realitas Salomo ini mencerminkan hidup kita saat ini. Kita mencari hikmat dengan membaca buku, mengikuti berbagai seminar atau webinar, serta mendengarkan podcast, tetapi hasilnya terkadang tetap terasa “kosong”. Kita bekerja keras menghimpun data, namun “tetap miskin kebijaksanaan”. Kita memiliki banyak jaringan pertemanan, tetapi batin tetap merasa sepi, hampa, dan tidak berarti. Masalah mendasar yang kita hadapi saat ini sebenarnya bukanlah kekurangan informasi, melainkan kondisi “hati yang bengkok”.

    Dunia telah lama kehilangan tatanan hidup yang lurus; ucapan yang dapat dipercaya kini menjadi barang langka. Padahal, pada awal pencarian yang sempurna, Allah menciptakan manusia dalam keadaan jujur (ayat 29a). Kata “jujur” (Ibrani: yāšār) berarti tidak bengkok, lurus, atau tulus. Di Taman Eden, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, kehidupan berlangsung dengan lurus dan tulus—tanpa manipulasi, tanpa topeng, dan tanpa kebutuhan akan citra diri (personal branding). Di sana hanya ada keindahan, keakraban, dan kebahagiaan yang sejati.

  3. Dalih yang Membengkokkan: “Tetapi mereka mencari banyak dalih” (Ayat 29b)
  4. Kata “dalih” (Ibrani: ḥiššəḇōnōṯ) merujuk pada perilaku manusia setelah dikeluarkan dari Taman Eden dan hidup di tengah realitas dunia yang telah rusak dan kacau. Istilah ḥiššəḇōnōṯ mengandung makna manipulasi rasio (akal budi), rekayasa pikiran, atau penciptaan alasan yang dicari-cari demi menyembunyikan kebenaran. Temuan utama dalam pengamatan Salomo adalah kecenderungan manusia untuk berdalih. Hingga saat ini, dalih tetap menempati posisi tertinggi dalam mekanisme pertahanan diri manusia.

    Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar ungkapan: “Saya terpaksa melakukan korupsi karena tuntutan gaji yang kecil”; “Saya berselingkuh karena pasangan kurang memberikan perhatian”; “Saya mencuri karena desakan biaya persalinan”; atau “Saya memilih bercerai karena sudah tidak ada lagi keselarasan“. Dalih juga sering merambah wilayah spiritual dan akademis, seperti: “Saya tidak beribadah lagi karena kecewa terhadap sikap pengurus gereja yang otoriter“; “Saya berhenti kuliah karena menganggap dosen-dosen terlalu kejam“; atau “Saya beralih keyakinan demi mempercepat kenaikan jabatan dan menghindari konflik di lingkungan iman sebelumnya“. Sederet dalih ini menunjukkan betapa mahirnya manusia mengonstruksi pembenaran.

    Secara mendalam, kata “dalih” (ḥiššəḇōnōṯ) mengacu pada gaya hidup yang gemar merekayasa alasan untuk memanipulasi kebenaran. Istilah ini bukan sekadar alasan biasa, melainkan sebuah kecenderungan warisan sejak kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) ke dalam dosa, yaitu dorongan untuk merancang pembenaran atas penyimpangan moral atau ketidaktaatan. Manusia menggunakan akal budi yang dianugerahkan Allah bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk menyusun cetak biru bagi keinginan hati yang egois.

  5. Relevansi bagi Kehidupan Kita
  6. Temuan Salomo dari ribuan tahun silam ini tetap menjadi cermin yang sangat jernih bagi kita untuk mengevaluasi dan merapikan diri:

    1. Segera Menyingkirkan Kebiasaan Mengalihkan Kesalahan (Blame-Shifting)
    2. Seasal kejatuhan dalam dosa di Taman Eden, manusia telah menjadi “ahli” dalam berdalih dan menggeser kesalahan kepada pihak lain secara manipulatif. Contoh klasik alkitabiah menunjukkan bagaimana Adam menyalahkan Hawa dan Allah, sementara Hawa menyalahkan ular (Kej. 3:10-13). Di era kontemporer, teknologi dan pemikiran modern sering kali disalahgunakan sebagai instrumen dalih (ḥiššəḇōnōṯ) yang canggih. Ketika seseorang mengalami kegagalan karakter atau integritas, kecenderungannya adalah segera mencari dalih psikologis, seperti trauma masa lalu, tekanan lingkungan, atau kelemahan sistem, tanpa bersedia mengambil tanggung jawab pribadi atas keputusan moral tersebut.

    3. Rekayasa Intelektual yang Tercemar Dosa
    4. Baik dalam dunia spiritual, akademis, maupun profesional, manusia telah sangat mahir mengemas ketidakjujuran menjadi sesuatu yang terdengar rasional, ilmiah, bahkan teologis. Di sinilah letak esensi dari ḥiššəḇōnōṯ: menggunakan kecerdasan untuk memutarbalikkan standar yang lurus (yāšār). Sebagai contoh, tindakan penyelewengan kecil sering kali ditutupi atau dibenarkan dengan dalih “uang lelah” atau “prosedur standar”.

    5. Kerumitan Hidup yang Melelahkan vs. Kesederhanaan Iman
    6. Manusia modern sering kali merumitkan hidupnya sendiri akibat mengejar berbagai skema dan ambisi ciptaan mereka—baik dalam karier, relasi, maupun pencapaian pribadi—hingga akhirnya kehilangan ketulusan hidup di hadapan Allah. Kitab Pengkhotbah mengingatkan kita untuk kembali pada esensi penciptaan awal: hidup dengan lurus, jujur, dan takut akan Allah, serta konsisten membina relasi dengan-Nya melalui perenungan Firman secara teratur.

    7. Langkah Mengatasi Kebiasaan Berdalih
    8. Solusi utamanya adalah bertobat, menerima Yesus Kristus di dalam hati (Yoh. 1:12; Rm. 10:9-11), dan mengalami kelahiran kembali secara rohani, sebagaimana yang Yesus sampaikan kepada seorang ahli Taurat bernama Nikodemus (Yoh. 3:3-7).

Refleksi
Masalah utama manusia sesungguhnya bukanlah kebodohan, kurangnya kecerdasan, atau minimnya peluang, melainkan kondisi hati yang selalu bersikeras mencari “dalih” untuk memanipulasi kebenaran. Hikmat sejati dianugerahkan melalui kehadiran Roh Kudus di dalam hati ketika kita mau bertobat—berhenti membangun dalih (ḥiššəḇōnōṯ) dan mulai melangkah di jalan yang lurus (yāšār) di hadapan Sang Pencipta. Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Mari kita berkomitmen untuk aktif terlibat dalam misi bersama Allah (on mission with God) selagi kesempatan masih ada.
Soli Deo Gloria.

Penulis: Pdt. Dr. Nimrod Fini Faot, M.Th.
Editor: Andra

Leave a Comment