Daily Devotion, 14 Mei 2026
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan orang yang “sulit” hadir dalam hidup Anda? Mungkin itu rekan kerja yang terus menguji kesabaran, anggota keluarga yang suka mengkritik, atau teman yang mengecewakan. Rasanya ingin sekali menjauh, bukan? Namun, mari renungkan firman-Nya dalam Amsal 27:17: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.“
Sama seperti sebilah pisau yang butuh gesekan keras untuk menjadi tajam, karakter kita pun sering kali membutuhkan “gesekan” dari orang lain agar menjadi lebih indah. Orang-orang sulit ini sebenarnya adalah alat di tangan Tuhan untuk memancing keluar apa yang ada di dalam hati kita. Saat kemarahan, keserakahan, atau ketidaksabaran muncul, itu bukan karena mereka yang memasukkannya ke sana, melainkan karena hal-hal itu memang sudah tersimpan di dalam perbendaharaan hati kita (Lukas 6:45).
Jadikanlah setiap interaksi yang sulit sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Syukurilah kehadiran orang-orang yang “menajamkan” Anda, karena melalui merekalah karakter Kristus sedang dibentuk dalam diri Anda. Jangan menyerah pada kelemahan jiwa, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi agar hidup Anda semakin berkenan kepada-Nya.
Refleksi Hidup
Mari jujur pada diri sendiri: bagaimana respon Anda saat ditegur atau saat menghadapi situasi yang tidak nyaman? Apakah Anda membalas kejahatan dengan kejahatan? Tuhan ingin kita membuang “manusia lama” itu. Kolose 3:8 mengingatkan, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor.”
Perubahan nyata terjadi saat pikiran kita dibersihkan oleh Firman Tuhan (Yohanes 15:3). Orang yang dewasa rohani tidak akan lagi bersikap kanak-kanak—tidak mudah tersinggung atau cengeng—melainkan menjadi teguh dalam iman. Alih-alih sibuk membela diri, kita justru didorong untuk menanggung kelemahan orang lain (Roma 15:1). Saat kita disakiti, kita belajar untuk tetap memberikan berkat, bukan caci maki.
Doa
Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap orang yang Engkau hadirkan dalam hidupku, bahkan mereka yang menguji kesabaranku. Ampuni aku jika selama ini aku masih menyimpan kemarahan dan sifat kanak-kanak. Roh Kudus, tolonglah aku untuk menanggalkan manusia lamaku dan pakailah Firman-Mu untuk membersihkan akal budiku. Jadikan aku pribadi yang kuat, penuh kasih, dan dewasa dalam iman agar hidupku memuliakan nama-Mu. Amin.
Oleh:Pdt.Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor:Andra
