Daily Devotion, 6 Mei 2026
Pernahkah Anda berada di posisi yang serba salah? Anda sudah memaafkan seseorang yang telah berbohong atau mengkhianati Anda, namun ketika mereka ingin kembali akrab seperti dulu, ada rasa “ngeri” atau ragu di dalam hati. Di sisi lain, mungkin Anda yang sedang berjuang meyakinkan orang lain bahwa Anda sudah berubah.
Hal ini ternyata dialami juga oleh Saulus (Rasul Paulus) saat baru bertobat. Alkitab mencatat dalam Kisah Para Rasul 9:26: “Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.” Luka yang ditinggalkan Saulus di masa lalu begitu dalam, sehingga pengampunan jemaat tidak serta-merta berubah menjadi kepercayaan instan.
Mengampuni adalah cara kita menjaga hati agar tetap bersih di hadapan Tuhan, sementara menjadi orang yang dapat dipercaya adalah tanggung jawab kita kepada sesama. Diampuni itu melegakan, namun bisa dipercaya kembali adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Teruslah berjuang dalam kesetiaan, karena waktu akan membuktikan kemurnian hati kita.
Refleksi Hidup
Kita perlu memahami bahwa mengampuni dan mempercayai adalah dua hal yang berbeda. Mengampuni adalah keputusan sepihak kita di hadapan Tuhan. Ini adalah perintah wajib tanpa syarat, sama seperti Tuhan telah mengampuni kita (Matius 18:22). Namun, kepercayaan adalah jembatan yang harus dibangun kembali lewat tindakan, bukan sekadar kata-kata manis.
Jika saat ini Anda sedang berusaha mendapatkan kembali kepercayaan seseorang, janganlah berkecil hati atau menuntut. Mulailah dengan setia dalam perkara-perkara kecil (Matius 25:21). Kepercayaan tidak diberikan secara gratis; ia adalah buah dari integritas yang konsisten. Alkitab menegaskan bahwa yang akhirnya dituntut dari setiap kita adalah pembuktian bahwa kita memang dapat dipercayai (1 Korintus 4:2). Mari kita periksa diri: Apakah ucapan kita sudah selaras dengan tindakan kita setiap hari? Jangan lelah untuk membuktikan pertobatan Anda melalui sikap yang jujur dan tulus.
Doa
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau selalu mengampuniku. Berikanlah aku hati yang luas untuk mengampuni sesama, namun juga berikanlah aku hikmat untuk tetap bijak. Tolonglah aku agar menjadi pribadi yang jujur dan setia, sehingga hidupku layak dipercayai oleh orang-orang di sekitarku. Biarlah Roh Kudus-Mu membimbing setiap ucapan dan perbuatanku hari ini. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
>
