Pendahuluan
Bayangkan Anda menerima hadiah paling mewah dan mahal di dunia, justru di saat Anda tahu persis bahwa Anda baru saja melakukan kesalahan fatal yang membuat Anda layak dihukum. Itulah kejutan, sapaan anugerah. Kita hidup di tengah dunia yang rusak oleh dosa kita sendiri—dunia yang penuh penderitaan dan patah hati. Secara logis, kita tidak layak menerima apa pun dari Allah selain keadilan murka-Nya. Namun, di tengah pekatnya kegelapan itu, nubuatan Yesaya 9:5 (TB2) berkumandang: “Sebab seorang anak telah lahir bagi kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; tampuk pemerintahan ada di atas bahunya…” . Ayat ini adalah proklamasi kasih (agaphe) yang amat radikal. Allah tidak membalas pemberontakan kita dengan pembinasaan, melainkan menyodorkan sebuah Pemberian Teragung untuk kita yang sama sekali tidak memenuhi syarat untuk menerimanya.
- Sumber dan Alasan di Balik Pemberian Teragung
Pemberian ini disebut “Teragung” karena bersumber langsung dari Allah Bapa. Ini adalah wujud anugerah—inisiatif kasih murni yang tidak dipengaruhi oleh kelayakan kita (Roma 5:6-8 [TB2]). Rasul Yohanes menjabarkan genapan nubuatan ini dengan sangat indah dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…,” dengan tujuan penyelamatan orang berdosa (Yohanes 3:17-18). Ketika ciptaan-Nya menderita dan tidak berdaya menyelamatkan diri dari belenggu dosa, Allah memberikan Putra Tunggal-Nya yang paling mulian, berharga. Dia menyerahkan Putra-Nya agar kita tidak binasa (Roma 8:32). - Hakikat Sang Putra: Jawaban Ekstrim atas Penderitaan Dunia (Manusia)
Keagungan hadiah ini dibuktikan melalui empat gelar mesianik dalam Yesaya 9:5. Nama-nama ini bukan sekadar julukan, melainkan jawaban theologis yang tepat atas setiap kerusakan karena keberdosaan dunia:- Penasihat Ajaib (Ibrani: Pele-Yoetz): Kata Pele berarti supranatural dan hanya disematkan bagi Allah. Yesus bukan sekadar konselor biasa, melainkan sumber hikmat ilahi yang melampaui akal manusia (Kolose 2:3). Dia menjawab kebingungan hidup kita dengan tuntunan-Nya yang ajaib. Yesus Penasihat Ajaib, karena Dia adalah Allah Anak.
- Allah yang Perkasa (Ibrani: El-Gibbor): Kata “Gibbor” berarti “Pahlawan perang yang gagah berani, benteng yang kuat).” Nama “El-Gibbor” (Allah yang Perkasa, merupakan nubuatan untuk Mesias, Penyelamat Agung (Yesaya 7:14 bd Matius 1:23). Yesus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi pejuang tangguh untuk menundukkan ketidakberdayaan kita melawan musuh terbesar, yaitu dosa dan maut, melalui salib-Nya (Kolose 2:15).
- Bapa yang Kekal (Ibrani: Avi-Ad): Kata “Ad“ berarti keabadian tanpa batas. Gelar ini menyingkapkan karakter Kristus yang bertindak sebagai pemelihara dan pelindung yang kasih-Nya tidak dibatasi waktu. Dia menjawab ketakutan kita akan hari esok dan kematian: “Aku memberikan hidup kekal kepada mereka” (Yohanes 10:28).
Raja Damai (Sar-Shalom): “Shalom” berati “keutuhan, kelengkapan,pemulihan, kesempurnaan” bukan sekedar absennya perang. Inti kata “Shalom” merujuk pada “keutuhan dan kesembuhan total.” Sebagai penguasa kedamaian, Yesus datang untuk memulihkan kerusakan total relasi dan perseteruan antara manusia dengan Allah akibat dosa (Roma 5:1). Ketika kita mengucapkan “Shalom” kepada orang lain, tidak sekadar mengucapkan selamat, melainkan mempermaklumkan sebuah doa agar hidup orang tersebut berada dalam kondisi yang utuh, sehat, sejahtera, aman, dan tanpa kekurangan suatu apa pun. Artinya “Shalom” mencakup kesejahteraan total yang menyeluruh: secara fisik, mental, sosial, materi, dan spiritual. Yesus Raja Shalom menghadirkan pencukupan bagi manusia.
- Dari Keselamatan Pribadi Menuju Missi Dunia
Mengapa “Pemberian Teragung” dialamatkan ke dunia? Jika kita menyandingkan Yohanes 3:16-18 dengan Matius 28:16-20, kita menemukan benang merah yang sangat tajam. Dunia membutuhkan keselamatan karena berada di bawah hukuman dosa (Yohanes 3:18). Yesus datang untuk memikul hukuman itu.
Namun, pemberian ini tidak boleh kita nikmati sendiri. Dalam Matius 28:18, Yesus menyatakan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Hal ini selaras dengan nats Yesaya bahwa lambang pemerintahan ada di atas bahu-Nya. Sebagai Pemegang Otoritas Tertinggi, Kristus mengutus kita untuk membagikan terang keselamatan itu kepada segala bangsa. Kita menerima Pemberian Teragung ini bukan untuk menjadi egois, melainkan untuk diutus menjadi pembawa berita anugerah. - Respons Kita
Bagaimana kita menyambut Pemberian Teragung ini? Tidak ada syarat pencapaian moral atau status. Syaratnya hanyalah bertobat, dan menerima-Nya (Yohanes 1:12, Matius 18:3). Setelah menerima-Nya, tanggung jawab kita adalah menundukkan diri di bawah kedaulatan-Nya. Hidup bersama Sang Putra Agung berarti memberi diri dikendalikan oleh-Nya dan mengatur setiap keputusan, masa depan, dan area hidup kita (Matius 11:29).
Aplikasi konkrit; Jika hari ini hidup Anda sedang terasa runtuh atau penuh kekhawatiran akibat dampak dunia yang rusak ini, lepaskan kendali ego Anda. Serahkan kekhawatiran itu kepada Sang Penasihat Ajaib dan Raja Damai (Filipi 4:6-7). Jadilah perpanjangan tangan Allah untuk menghadirkan keadilan, kebenaran, dan kasih di lingkungan tempat Anda berada.
Kesimpulan
- Pemberian Teragung adalah bukti konkret bahwa Allah peduli dan bertindak di tengah dunia yang hancur oleh dosa.
- Melalui Yesus Kristus, kita tidak hanya menerima pengampunan dosa, tetapi juga pemulihan hidup yang seutuhnya. Namun ingat, anugerah yang agung ini menuntut respons yang radikal. Kita tidak bisa mengaku menerima Kristus sebagai Juru Selamat jika kita menolak Dia sebagai Raja yang memerintah hidup kita.
- Menyambut Pemberian Teragung dari Allah Bapa berarti siap dipimpin oleh-Nya, dan hidup bersama-Nya dalam menjalankan Amanat Agung selama hari masih siang.
Pertanyaan Pengarah (Refleksi):
- Di tengah penderitaan atau pergumulan hidup yang kita hadapi saat ini, apakah kita sudah benar-benar mengizinkan Sang “Penasihat Ajaib” dan “Raja Damai” mengambil alih kendali hidup kita, atau kita masih lelah mencoba menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri?
- Sebagai orang yang telah mengalami pemulihan lewat Pemberian Teragung ini, apa langkah konkret yang bisa kita lakukan minggu ini untuk membagikan terang dan kasih Kristus kepada sesama yang sedang hidup dalam kegelapan dosa?
Dan akhirnya, hidup bersama Kristus, berarti hidup untuk sesama dan ketika kita hidup untuk sesama, di situlah kita hidup untuk Allah (Matius 25:34-40). Hidup untuk Kristus berarti bermissi bersama Allah (on Mission with God) selama masih siang. Soli Deo Gloria. Amin.
Penulis: Pdt. Dr. Nimrod Fini Faot, M.A, M.Th.
Editor: Andra
