Daily Devotion, 14 Juni 2026
Pernahkah Anda merasa dikucilkan atau dianggap “aneh” oleh lingkungan sekitar hanya karena memilih untuk jujur, menolak kompromi dengan dosa, atau tetap mengasihi saat disakiti? Rasanya sungguh tidak nyaman dan melelahkan. Namun, ketahuilah bahwa ketika kita mengalami penolakan itu, ada sebuah kepastian iman di dalamnya. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 15:18, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.“
Dunia membenci kita bukan karena kita jahat, melainkan karena kepemilikan hidup kita telah berpindah sepenuhnya menjadi milik Kristus. Menjadi pengikut Yesus berarti siap mengalami gesekan dengan nilai-nilai duniawi. Namun, di balik ketidaknyamanan itu, ingatlah akhir dari kesetiaan kita adalah upah mahkota kekal yang takkan pudar.
Refleksi Hidup
Mari kita selidiki hati kita hari ini. Apakah cara berpikir, ucapan, dan gaya hidup kita sehari-hari masih berusaha mencari muka di hadapan dunia, atau sudah sepenuhnya mencerminkan kasih Kristus?
Menjadi milik Kristus menuntut sebuah perubahan radikal. Kita diajak untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5). Ketika tantangan dan kebencian itu datang karena iman kita, firman Tuhan mengingatkan agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan sebaliknya, hendaklah kita memberkati (1 Petrus 3:9).
Mari mulai hari ini dengan langkah praktis: gantilah amarah dengan penguasaan diri, penolakan dengan pengampunan, dan berdirilah teguh tanpa mengorbankan iman demi sebuah pengakuan dari dunia.
Doa
Tuhan Yesus yang baik, terima kasih karena Engkau telah memilih dan menguduskan hidupku menjadi milik-Mu. Ampuni aku jika terkadang aku masih takut dibenci oleh dunia dan kerap berkompromi dengan dosa demi diterima lingkungan.
Roh Kudus, penuhilah hatiku dengan keberanian dan kekuatan. Mampukan aku untuk tetap teguh berdiri di dalam iman, membalas kebencian dengan kasih-Mu, dan hidup selaras dengan Firman-Mu setiap hari. Pegang tanganku, ya Bapa, agar hidupku senantiasa menyenangkan hati-Mu. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
