Daily Devotion, 15 Juni 2026
Pernahkah Anda mengulurkan tangan untuk menolong seseorang yang sedang kesulitan, tetapi niat baik dan nasihat bijak Anda justru ditolak mentah-mentah atau bahkan dibalas dengan kemarahan? Mengasihi sesama adalah perintah Tuhan, namun Alkitab juga mengajarkan kita untuk memiliki hikmat dalam menolong. Yesus sendiri memberikan prinsip yang sangat tegas dalam Markus 6:11: “Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”
Terkadang, kita memaksakan diri menyelamatkan orang yang bebal hatinya—mereka yang ingin dibantu secara materi, tetapi menutup telinga dari kebenaran. Memaksa menolong orang yang menolak dididik hanya akan membuat usaha kita sia-sia dan menguras kedamaian hati kita. Alkitab mengingatkan agar kita tahu kapan harus melangkah mundur demi kebaikan bersama.
Refleksi Hidup
Mari kita luangkan waktu sejenak untuk memeriksa diri kita masing-masing. Di posisi manakah kita saat ini? Apakah kita menjadi orang yang rindu ditolong namun selalu mengeraskan hati saat ditegur? Atau justru kita sedang lelah karena terus mencoba mengubah seseorang yang tidak mau berubah?
Alkitab menasihati kita dengan sangat jelas, “Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya” (Amsal 14:7). Kita harus bijak, sebab memberi bantuan finansial atau mempekerjakan orang yang bebal sering kali berujung pada pemborosan dan kerugian (Amsal 21:20). Bahkan, memberikan nasihat berharga kepada mereka sering kali terasa seperti melempar mutiara kepada babi (Matius 7:6).
Mari terapkan hikmat ini secara praktis dalam hidup sehari-hari: belajarlah melepaskan kendali atas orang yang keras hati, berhentilah berdebat kusir, dan fokuslah menjaga kekudusan serta damai sejahtera yang Tuhan titipkan di hati kita.
Doa
Tuhan Yesus yang penuh hikmat, terima kasih atas firman-Mu yang membimbingku hari ini. Ampuni aku jika selama ini aku kurang bijaksana dalam menolong sesama, atau justru akulah yang sering kali bebal dan keras kepala saat menerima nasihat-Mu.
Ya Roh Kudus, lembutkanlah hatiku agar selalu siap dididik dan diubahkan. Berikanlah aku karunia hikmat untuk bisa membedakan kapan harus menolong dengan tangan terbuka, dan kapan harus mundur dengan kasih demi menjaga kedamaian hati. Pimpin setiap langkah dan keputusanku hari ini agar senantiasa selaras dengan kehendak-Mu. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
