Renungan Harian, 18 Agustus 2026
Pernahkah anda membangun istana pasir yang cantik di tepi pantai? Kita mungkin berasa sangat bangga melihat betapa hebatnya bangunan itu. Namun, apabila ombak besar melanda, istana itu musnah dalam sekejab mata. Begitulah juga halnya dengan kesombongan di dalam hidup kita. Kadang-kadang, karena kejayaan, harta, pencapaian, atau status sosial, kita berasa diri kitalah yang paling hebat. Kita terlupa bahwa segala yang kita miliki adalah anugerah Tuhan semata-mata.
Firman Tuhan dalam Matius 23:12 mengingatkan kita, “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kesombongan ibarat memakai mahkota yang bukan milik kita. Apabila kita merendahkan hati dan mengakui bahawa kita sangat memerlukan Tuhan dalam setiap langkah, di situlah Tuhan mula bekerja, melindungi, dan menjadikan hidup kita sebagai berkat yang sebenar.
Refleksi Hidup
Mari kita merenung sejenak ke dalam hati kita: adakah tutur kata, tindakan, dan perancangan hidup kita selama ini mencerminkan kerendahan hati di hadapan Tuhan? Atau adakah kita diam-diam sering memandang rendah orang lain? Firman Tuhan menegur kita agar tidak membeda-bedakan derajat sesama manusia, karena “jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa” (Yakobus 2:9). Begitu juga dalam merancang kehidupan dan masa depan. Janganlah kita memegahkan diri dengan perancangan sendiri tanpa melibatkan Tuhan. Yakobus 4:15 mengajar kita cara hidup yang benar: “Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.‘”
Mulai hari ini, mari kita selaraskan kembali hati dan pikiran kita. Jangan biarkan keangkuhan merusak masa depan kita, karena “kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18). Tanggalkanlah segala bentuk kesombongan, bersyukurlah dengan apa yang ada, dan layanilah sesama manusia dengan penuh kasih sayang yang jujur.
Doa
Bapa yang penuh kasih, ampunilah aku sekiranya selama ini ada kesombongan dan keangkuhan yang tersembunyi di dalam hatiku. Kadangkala aku lupa bahwa segala yang aku miliki adalah pemberian daripada-Mu. Ya Roh Kudus, tolonglah aku untuk senantiasa hidup dalam kerendahan hati. Bimbinglah langkahku agar aku senantiasa bergantung pada kehendak-Mu dan senantiasa mengasihi sesama manusia dengan tulus. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
