Hati Seorang Pelayan, Bukan Sekadar Bayaran

Renungan Harian, 5 Agustus 2026

Pernahkah Anda menemui seorang pembimbing atau fasilitator yang sangat antusias saat ada honor besar, namun tiba-tiba menghilang saat orang yang didampinginya benar-benar butuh bantuan? Itulah gambaran dari seorang “pekerja upahan”. Dalam melayani, mengajar, atau memimpin sesama, Tuhan merindukan kita memiliki hati seorang gembala sejati, bukan sekadar mencari keuntungan pribadi.

Firman Tuhan dalam Yohanes 10:12 mengingatkan bahwa “seorang upahan… ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari.” Seorang dengan mental upahan hanya memikirkan kesejahteraannya sendiri dan lari saat ada tantangan. Sebaliknya, teladan Kristus mengajarkan kita untuk rela berkorban. Jangan sampai pelayanan kita diukur dari seberapa besar bayaran yang kita terima, melainkan seberapa tulus kasih yang kita bagikan. Mari layani dan bimbing sesama dengan ketulusan, sebab kasih sejati tidak pernah berhitung untung rugi.

Refleksi Hidup
Mari kita merenung sejenak: saat kita berdiri di depan kelas, mendampingi komunitas, atau melayani di gereja, apakah motivasi utama kita? Apakah murni karena kasih kepada jiwa-jiwa, atau karena pujian dan materi? Sangat menyedihkan jika Tuhan menegur kita seperti dalam Yehezkiel 34:2, “Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri!

Jika hari ini Anda diberi kesempatan dan kemampuan untuk menjadi fasilitator yang menuntun orang lain pada kebenaran, ingatlah bahwa karunia itu Anda dapatkan dengan cuma-cuma, maka “berikanlah pula dengan cuma-cuma(Matius 10:8). Jangan biarkan materi menjadi tuan atas waktu dan tenaga Anda, sebab “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon(Lukas 16:13). Mulai sekarang, selaraskanlah sikap hati Anda. Jadilah pendamping kehidupan yang benar-benar peduli, yang tidak meninggalkan mereka yang lemah, dan senantiasa bersedia berkorban demi kebaikan orang-orang yang Anda layani.

Doa
Bapa yang baik, terima kasih karena Engkau adalah Gembala Agung yang rela berkorban bagiku. Ampunilah aku jika selama ini motivasiku dalam melayani, mengajar, atau mendampingi orang lain masih berpusat pada keuntungan diriku sendiri. Ya Roh Kudus, mampukan aku untuk melayani dengan tulus dan cuma-cuma, tanpa terikat pada cinta akan uang. Bentuklah hatiku agar memiliki belas kasih seperti-Mu. Amin.

Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra

Leave a Comment