Daily Devotion, 7 Juni 2026
Pernahkah Anda merasakan penyesalan yang begitu hebat hingga dada terasa sesak? Mengaku bersalah adalah satu hal, namun bagaimana kita meresponi rasa bersalah itu adalah hal lain. Yudas Iskariot merasakan penyesalan yang luar biasa, namun ia meresponinya dengan cara yang tragis.
“Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” … Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. (Matius 27:4-5)
Saat ini, banyak dari kita yang terjebak dalam pola yang mirip ketika jatuh dalam dosa. Alih-alih datang kepada Tuhan, kita melarikan diri ke dalam “pelarian semu” seperti alkohol, judi, atau bahkan mengutuki diri sendiri dalam keputusasaan. Namun, Tuhan Yesus tidak pernah mencari pendosa yang hanya meratapi kesalahannya, melainkan mereka yang mau berbalik dan melangkah ke jalan kebenaran. Penyesalan sejati bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal untuk pulang ke pelukan Bapa yang penuh kasih.
Refleksi Hidup
Mari kita selidiki hati kita masing-masing hari ini. Ketika kita menyadari bahwa perkataan, tindakan, atau pikiran kita telah melukai hati Tuhan dan sesama, apa yang biasanya kita lakukan? Apakah kita hanya sekadar merasa bersalah, lalu besoknya mengulangi hal yang sama?
Tuhan merindukan sebuah pertobatan yang berbuah nyata dalam keseharian kita. Firman Tuhan mengingatkan kita dalam Amsal 28:13:
“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”
Bertobat berarti ada tindakan aktif untuk meninggalkan manusia lama kita. Kita dipanggil untuk mengalami pembaharuan budi yang radikal, bukan mengikuti arus dunia ini. Rasul Paulus menegaskan dalam Roma 12:2:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”
Aplikasi praktisnya sederhana namun mendalam: jika kita terbiasa berdusta, mari belajar berkata jujur mulai hari ini. Jika kita menyimpan dendam, mari lepaskan pengampunan. Izinkan Roh Kudus membimbing setiap keputusan dan tutur kata kita agar hidup kita benar-benar mencerminkan gambar Sang Khalik.
Doa
Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau tidak pernah membuangku saat aku jatuh. Ampunilah jika selama ini aku sering menyesali dosaku dengan cara yang salah atau menyembunyikannya. Hari ini, aku menyerahkan seluruh hati dan hidupku ke dalam tangan-Mu. Roh Kudus, penuhilah hatiku, berikan aku kekuatan untuk meninggalkan jalan yang salah, dan tuntunlah langkahku agar hidupku menghasilkan buah pertobatan yang menyenangkan hati-Mu. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
