Kesuksesan Adalah Berkat, Tetapi Juga Ujian

“Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. “
( Ulangan 8:11)

Banyak orang mencari Tuhan saat menghadapi kesulitan, tetapi sering lupa bersyukur dan tetap dekat dengan-Nya ketika hidup menjadi lebih mudah. Hal ini sudah terjadi sejak lama. Ribuan tahun lalu, Musa sudah mengingatkan bangsa Israel tentang bahaya yang tersembunyi di balik kemakmuran.

Peringatan Musa

Dalam Ulangan 8:11, Musa berkata: “Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu.”

Kata “hati-hatilah” dalam bahasa Ibrani adalah (השמר לך ) hishamer lekha, yang artinya
“jagalah dirimu sendiri.” Ini adalah peringatan tegas bahwa bahaya melupakan Tuhan bukan berasal dari luar, melainkan dari hati kita sendiri.

Tuhan tahu hati manusia mudah tertarik pada kenyamanan. Di padang gurun, bangsa Israel belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Namun, tantangan yang sebenarnya muncul setelah merekan masuk ke Tanah Perjanjian, ketika rumah sudah dibangun, ternak bertambah, dan kebutuhann tercukupi. Saat itulah godaan terbesar datang: merasa bisa hidup sendiri tanpa Tuhan.

Ironi Kemakmuran

Saat segala sesuatu berjalan lancar, seperti pekerjaan yang stabil, keluarga yang damai, dan keuangan yang cukup, ada godaan besar untuk merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan. Kita bisa terlalu sibuk menikmati hasil, sampai lupa pada Sang Pemberi berkat.

Firman Tuhan mengingatkan:
“Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan”
(Ulangan 8:18).

Kesuksesan memang berkat, tetapi juga merupakan ujian. Ujiannya sederhana: apakah kita masih mengingat Tuhan? Bukan hanya sekadar mengingat, tetapi juga membangun hubungan hidup yang mengakui Dia sebagai sumber segala sesuatu. Daud mengerti hal ini. Saat bangsa Israel memberikan persembahan untuk Bait Suci, ia tidak memuji kebaikan rakyat, melainkan berdoa:

“Sebab dari-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu”
(1 Tawarikh 29:14).

Dalam keberhasilan besar, Daud tetap rendah hati. Ia sadar semua yang mereka miliki hanyalah milik Tuhan yang dikembalikan kepada Tuhan.n yang dikembalikan kepada Tuhan.

Sikap yang Benar

Karena itu, saat promosi datang, bisnis berkembang, atau tabungan bertambah, jangan merasa sombong atau membanggakan diri di hadapan Tuhan. Justru di saat seperti itu, kita harus semakin
merendahkan hati. Bukan karena pura-pura, tetapi karena sadar bahwa semua adalah anugerah. Bukan karena kekuatan dan kemampuan kita, kita bisa bertahan sampai hari ini. Ada tangan Tuhan yang menopang dan kasih setia-Nya yang memelihara. Satu-satunya respons yang benar adalahmenundukkan hati, mengakui semua keberhasilan bahkan hidup kita hanyalah karena anugerah dan kemurahan-Nya.

Keberhasilan Sejati

Keberhasilan sejati bukan hanya soal pencapaian duniawi. Rumah yang megah, tabungan yang banyak, atau jabatan tinggi, semua itu bisa hilang dalam sekejap. Keberhasilan sejati adalah hidup yang tetap setia dan taat kepada Tuhan di setiap musim kehidupan. Berhasil dalam hidup tetapi gagal mengandalkan Tuhan adalah kerugian terbesar.

Mari kita belajar untuk selalu waspada. Jangan sampai kenyamanan membuat kita lupa berdoa. Jangan biarkan kelimpahan membuat kita merasa cukup tanpa Tuhan. Justru dalam keberhasilan, kita harus semakin dekat kepada-Nya.

Bukan hanya karena berkat-Nya, tetapi karena Dia adalah sumber kehidupan. Tanpa Tuhan, semua keberhasilan akan terasa kosong. Kesuksesan memang berkat, tetapi juga merupakan ujian. Jika kita bisa melewati ujian ini, artinya kita tetap mengingat, tetap bersyukur, dan tetap berpegang kepada Tuhan, apa pun musim
kehidupan yang kita jalani. Tuhan memberkati.

Penulis : ⁠ ⁠⁠ ⁠Pdm. Susana Seti Nor Cahyani (Gembala Sidang GBI GRESSEL Yogyakarta)
Editor   : Anno Nendra Dinata (SOG Ministry)

Leave a Comment