Pendahuluan
Sebagian besar dari kita yang sering mendengarkan para pengkhotbah pasti tidak asing dengan kata-kata “Tuhan berbicara kepada saya” atau ‘Roh Kudus berbicara kepada saya” atau “ Tuhan menunjukan sesuatu kepada saya di dalam roh”. Perkataan-perkataan tersebut merupakan bagian dari klaim komunikasi supranatural antara manusia dengan Tuhan. Bagi jemaat awam itu merupakan sesuatu yang luar biasa atau sesuatu yang mustahil diterima secara logika dan menganggap hanya sebagai perkataan pemanis atau klaim sepihak tanpa adanya bukti yang jelas dan terbuka.
Seorang psikiater kontroversial, Szasz dalam bukunya menuliskan “If you talk to God, you are praying; If God talks to you, you have schizophrenia. If the dead talk to you, you are a spiritualist; If you talk to the dead, you are a schizophrenic”. Memang tidak dipungkiri bahwa mungkin Tuhan memang “berbicara” kepada mereka untuk menyatakan tuntunan, penghiburan ataupun penguatan bagi hidup mereka ataupun kehidupan jemaat. Suara Tuhan yang didengar secara audible kadangkala diikuti dengan fenomena supranatural, namun secara umum Tuhan berbicara kepada manusia melalui pikiran atau impresi dimana manusia bebas untuk mentaatinya atau tidak. Lantas sebagai jemaat awam seperti kita menyikapi fenomena supranatural tersebut?
Cara Tuhan Berkomunikasi Dengan Umat-Nya
Kita harus bisa mengerti dan memahami bagaimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Apalagi jika berkaitan dengan komunikasi yang bersifat supranatural. Mari kita melihat di dalam Alkitab, bagaimana cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia.
- Tuhan berkomunikasi langsung secara audible
Berdasarkan Alkitab kita akan menemukan banyak sekali contoh dimana Tuhan berkomunikasi secara audible. Audible yang dimaksud ialah bahwa suara Tuhan bisa ditangkap dan didengar oleh telinga secara Hal ini dapat diketahui ketika suara Tuhan bisa didengar oleh beberapa orang sekaligus. Sebagai contoh ialah ketika Tuhan berdialog dengan Adam, Hawa dan ular di taman Eden setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:9-14). Paulus ketika dalam perjalanan menuju ke Damsyik juga mendengar suara Tuhan yang berbicara kepadanya secara audibel (Kisah Para Rasul 9:3-7). Hal ini dibuktikan dengan reaksi teman-teman seperjalanannya yang juga mendengar suara Tuhan (ay. 7).Dari contoh di atas, kita bisa mengetahui bahwa Tuhan juga bisa berkomunikasi secara audible dengan manusia ketika tujuan komunikasi itu itu menunjukkan keberadaan dan kuasaNya di antara banyak orang. Jadi ketika ketika Tuhan berbicara secara audible, pasti ada saksi manusia lain yang turut mendengar perkataanNya. - Tuhan berkomunikasi melalui mimpi
Mimpi juga menjadi sarana bagi Tuhan untuk berkomunikasi dengan umatNya. Melalui mimpi, Tuhan menyampaikan apa yang menjadi putusanNya, memberikan panduan, dan bahkan juga memberitahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Ketika Samuel masih muda, ia menerima panggilan untuk menjadi pelayan Tuhan melalui mimpi (1 Samuel 3:1-15). Melalui mimpi juga, orang-orang Majus dan bahkan Yusuf menghindari bencana dari Herodes (Matius 2:12- 13). Nabi Daniel juga menerima penyataan dari Tuhan mengenai keempat binatang dan anak manusia juga melalui mimpi (Daniel 7). Perlu dicatat bahwa komunikasi supranatural melalui mimpi tersebut juga ada kelemahannya, yakni jika manusia salah menafsirkan mimpi.
Tidak hanya Tuhan, bahkan iblis pun bisa menyesatkan manusia melalui mimpi dengan menyamar sebagai Tuhan atau malaikat terang. Hal ini dimungkinkan karena iblis pun dulunya adalah malaikat sehingga mampu mengadakan hal-hal yang bersifat ilahi juga (Yesaya 14:13-14; Yehezkiel 28; 2 Korintus 11:14). Tuhan hanya berbicara melalui mimpi kepada orang-orang yang hidupnya benar-benar dikuasai Tuhan dan memiliki kepekaan roh karena hidup kudus, benar dan diperkenan Tuhan. - Tuhan berkomunikasi melalui penglihatan
Tuhan juga sering berkomunikasi dengan umatNya melalui penglihatan, bahkan cara komunikasi supranatural inilah yang paling sering terjadi. Sejak zaman para nabi, para rasul dan sampai saat ini jenis komunikasi inilah yang umumnya dipakai oleh Tuhan. Ketika Tuhan menjanjikan keturunan kepada Abraham, Dia berkomunikasi dengan Abraham melalui penglihatan (Kejadian 15:1). Nabi Daniel juga menerima pengalaman ini, ketika dia di tepi sungai Tigris ia memperoleh penglihatan (Daniel 10). Di zaman gereja mula-mula, Tuhan juga sering menggunakan penglihatan untuk berkomunikasi dengan umatNya, misalnya ketika Dia memberitahu Ananias untuk menemui Saulus (Kisah Para Rasul 9:10-12) serta ketika Paulus juga mendapat peneguhan untuk tetap memberitakan firman Tuhan di Korintus (Kisah Para Rasul 18:9).
Fenomena mendapat komunikasi dari Tuhan melalui penglihatan ini, bisa terjadi di dalam rohatau di dalam tubuh. Komunikasi supranatural penglihatan ini diterima secara sadar. Sebagai catatan, kita mesti bersikap hati-hati dalam menerima pernyataan seseorang yang mengaku mendapat penglihatan dari Tuhan dan terhadap penafsirannya. Setiap klaim penglihatan harus diuji berdasarkan firman Tuhan (sesuai dengan Alkitab – red). Otoritas penglihatan tidak boleh lebih tinggi daripada firman Tuhan.
Model Komunikasi Tuhan di Zaman Modern
Saat ini, bagaimanakah Tuhan menjalin komunikasi secara langsung dengan kita? Suatu penelitian terhadap beberapa orang di lingkungan gereja kharismatik di London yang mengaku mendengar suara Tuhan menghasilkan suatu hipotesa sebagai berikut:
- Suara Tuhan yang diterima lebih mengacu dalam bentuk pemikiran di dalam suatu pikiran, bukan suara yang bisa didengar secara langsung di lingkungan luar (Audibel). Hal ini berkaitan dengan pikiran dan perasaan, bukan pengalaman persepsi. Tuhan berbicara melalui alur pemikiran dan bersifat mendesak, misalnya ketika tiba-tiba dalam pikiran kita ada dorongan untuk menolong seseorang, meskipun kita tidak mengenalnya.
- Biasanya terkait dengan masalah duniawi mengenai kehidupan saat ini, bukan wawasan metafisik ataupun kejadian di masa depan termasuk bukan masalah- masalah abstrak, filosofis ataupun doktrinal.
- Ada kepastian. Apa yang disampaikan oleh Tuhan ketika menyelah alur pemikiran seseorang, jika itu mengandung sebuah janji, pasti akan digenapi. Ini ada kaitannya dengan hikmat, bahwa di dalam menerima suatu janji atau muncul keinginan, harus bisa membedakan, apakah itu pemikiran dari Tuhan, atau hanya pemikiran diri sendiri.
Dari kesimpulan penelitian di atas, suara Tuhan yang didengar lebih ke dalam bentuk impresi, dan bukan suara yang terdengar langsung secara fisik. Hal ini terjadi karena peran Roh kudus yang mempengaruhi jiwa dan roh manusia dalam memberi bimbingan, mengkoreksi, meminta kita untuk berbuat sesuatu, atau untuk memberitahu kita agar menolong orang lain. Meskipun demikian, keputusan untuk mengikuti suara Tuhan itu ada pada kita, apakah kita mau taat atau tidak.
Menguji Komunikasi Supranatural
Setiap fenomena komunikasi supranatural harus diuji karena bisa jadi, itu bukan suara dari Tuhan, melainkan suara iblis yang hendak menyesatkan. Rasul Paulus menyadari bahaya komunikasi supranatural ini, karena itu dia menasehatkan untuk menguji segala sesuatu melalui kebenaran firman Tuhan (1 Tesalonika 5:21). Aspek lain yang perlu dikaji ialah, ketika seseorang berkata; “Tuhan berbicara kepada saya” atau, “ Saya melihat di dalam roh” adalah apakah benar itu adalah pengalaman supranatural atau hanya delusi (gangguan psikotik). Pengalaman supranatural tersebut, apalagi pengalaman dibawa secara roh, memiliki kemiripan dengan pengalaman psikotik yang memenuhi banyak kriteria PSE.
Jika komunikasi supranatural itu benar dari Tuhan, maka dipastikan pesan yang disampaikan sesuai dengan firman Tuhan ( Alkitab) dan bersifat positif. Apa yang disampaikan tidak akan ada pertentangan dengan firman Tuhan, termasuk tidak memberikan doktrinal baru yang berbeda dengan konsep doktrinal alkitabiah. Jika tidak sesuai, maka harus diwaspadai karena bisa jadi itu cara iblis untuk menyesatkan. Di sisi lain, jika itu bukan komunikasi supranatural, maka harus diwaspadai juga, bisa jadi orang yang mengklaim mengalami pengalaman fenomena tersebut menderita skizofrenia.
Kesimpulan
Sebagai jemaat awam, tidak perlu merasa alergi bila mendengar seorang pengkhotbah berkata: “Tuhan berkata kepada saya”, atau “Roh Kudus berbicara kepada saya” atau “Saya melihat di dalam roh” atau “Tuhan menunjukkan di dalam roh”. Bersikap tenang, postif, tetap teguh pada firman Tuhan dan menguji perkataan/nubuatan tersebut dengan firman Tuhan. Untuk para pengkhotbah, ada baiknya menyelidiki dulu, jangan sembarangan menyatakan itu suara Tuhan, ingatlah apa yang Tuhan firmankan melalui nabi Yeremia:
“Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.” (Yeremia 14:14)
Referensi
1 Szasz T. Schizophrenia: The sacred symbol of psychiatry. Oxford University Press. Oxford. 1979. Hal.101.
2 Simon Dein and Christopher C.H. Cook. God put a thought into my mind: the charismatic Christian experience of receiving communications from God. Journal from Mental Health, Religion & Culture. National Institutes of Health. 2015.
3 Jackson, M.C, & Fulford, K.W.M.Spiritual Experience And Psychopathology. Philosophy, Psychiatry and Psychology. Johns Hopkins University Press. Baltimore. 1997
