Renungan Harian, 22 Juli 2026
Seringkali kita merasa puas dan menganggap diri sudah sangat rohani ketika berhasil menahan lapar dan haus dari pagi hingga petang. Namun, cobalah ingat kembali, pernahkah di tengah ibadah puasa tersebut, kita justru mudah meledak marah, bergosip tentang orang lain, atau menyimpan dendam terhadap keluarga?
Tuhan menegur keras praktik beragama yang dangkal ini melalui firman-Nya: “Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur?” (Yesaya 58:5). Puasa sejati bukanlah tentang pamer kesalehan, menghitung jumlah hari, atau sekadar menahan lapar fisik sebagai rutinitas agama belaka. Jauh melampaui itu, Tuhan merindukan puasa yang sanggup mengubah kedalaman hati kita. Puasa yang sejati adalah keputusan sadar untuk hidup kudus, menundukkan hawa nafsu, dan terus berbuat kebaikan bagi sesama dalam keseharian kita.
Refleksi Hidup
Mari sejenak merenung ke dalam hati: saat aku berpuasa atau melayani Tuhan, apakah perkataan, tindakan, dan sikapku sudah sungguh-sungguh mencerminkan kasih dan kesetiaan kepada-Nya? Ataukah aku masih sering berdebat dan mencari menangnya sendiri? Firman Tuhan memperingatkan dengan tegas, “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena” (Yesaya 58:4). Jika hati kita masih penuh amarah, puasa jasmani kita tidak akan menyentuh hati Tuhan.
Sebagai aplikasi praktis hari ini, mari ubah cara kita beribadah. Dengarkanlah panggilan lembut-Nya: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN…” (Yoel 2:13). Mulailah berpuasa dari kebiasaan burukāpuasa dari kata-kata pedas, puasa dari sikap egois, dan puasa dari prasangka buruk. Buktikan iman kita dengan cara “menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu” (Galatia 5:24) dan berani berbagi kebaikan nyata kepada mereka yang sedang kesusahan. Itulah ibadah murni yang menyenangkan hati Allah.
Doa
Bapa yang penuh kasih, selidikilah hatiku hari ini. Ampuni aku jika selama ini ibadah dan puasaku hanya sekadar rutinitas agamawi tanpa kasih yang nyata kepada sesama. Ya Roh Kudus, tolonglah dan mampukan aku untuk menundukkan segala egoku. Ajar aku untuk menghidupi puasa yang sejati, yaitu hidup kudus, memancarkan kasih-Mu, dan selalu membawa kebaikan bagi orang-orang di sekitarku. Di dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa dan berserah penuh. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
