Renungan Harian, 28 Juli 2026
Pernahkah Anda merasakan betapa beratnya suasana di dalam rumah setelah terjadinya pertengkaran? Meski amarah telah reda, keheningan yang menyelimuti justru terasa menyiksa dan menyedot energi batin kita. Konflik memang selalu merampas sukacita. Firman Tuhan dengan lembut mengingatkan kita dalam 1 Korintus 14:33, “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.“
Allah kita adalah sumber kedamaian. Namun dalam keseharian, kita sering kali terjebak ego—memilih mempertahankan gengsi dibanding mengusahakan perdamaian, baik dalam keluarga, tempat kerja, maupun komunitas. Padahal, saat kita memilih hidup rukun, di situlah Tuhan memerintahkan berkat-Nya mengalir. Ketika kita aktif mengejar damai sejahtera, kita bukan saja menyelesaikan perselisihan, tetapi juga membuktikan bahwa Kerajaan Allah nyata dalam hidup kita.
Refleksi Hidup
Mari kita luangkan waktu sejenak untuk menyelidiki hati kita hari ini:
- Apakah ada benih ganjalan, dendam, atau amarah yang masih kita simpan terhadap orang lain?
- Mampukah perkataan dan tindakan kita hari ini menjadi penyesejuk di tengah suasana yang panas?
Sering kali kita lupa bahwa kita pun manusia yang tak luput dari kesalahan dan merindukan pengampunan. Tuhan Yesus mengajar kita dalam Lukas 6:31, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Jika kita rindu diperlakukan dengan sabar, marilah kita terlebih dahulu mengulurkan tangan perdamaian. Firman-Nya menegaskan dalam Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Ingatlah juga nasihat dalam Roma 12:18, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Mengalah demi perdamaian bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti nyata kedewasaan rohani kita.
Doa
Tuhan Yesus, Raja Damai, ampunilah aku jika selama ini aku masih sering memelihara amarah, gengsi, dan perselisihan dengan sesamaku. Lembutkanlah hatiku hari ini. Roh Kudus, penuhilah hatiku dengan kasih dan hikmat-Mu, agar aku mampu mengampuni dan menjadi pembawa damai di mana pun aku berada. Biarlah hidupku senantiasa menyenangkan hati-Mu. Amin.
Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra
