Mengutamakan Tuhan: Bukan Lagi Aku, Melainkan Kristus

Daily Devotion, 19 Juni 2026

..namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
(Galatia 2:20)

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus mendesak kita untuk mengejar ambisi pribadi, sering kali kita terjebak dalam pusaran hidup yang berpusat pada diri sendiri (egosentris). Banyak orang Kristen, tanpa disadari, menjalani hari-harinya hanya untuk memuaskan keinginan dan kepentingan pribadinya, bukan kepentingan Kristus. Alkitab dengan tegas mengingatkan bahaya dari cara hidup yang egois ini melalui Yakobus 3:16: “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Ketika ego menjadi raja di dalam hati, yang timbul hanyalah gesekan, konflik, dan ketidakbahagiaan karena kita selalu menuntut dunia dan sesama untuk memuaskan dahaga kedagingan kita.

Mengutamakan Tuhan berarti mengubah total arah kompas kehidupan kita dari “aku” menjadi “Tuhan”. Hidup yang telah ditebus oleh Kristus tidak lagi menjadi milik kita sepenuhnya, melainkan sebuah persembahan yang hidup untuk kemuliaan-Nya. Perubahan fokus ini harus nyata dan membumi dalam setiap aspek keseharian kita—mulai dari bagaimana kita bekerja atau berwirausaha, membangun keluarga, berinteraksi dalam komunitas, hingga bagaimana kita mengambil bagian dalam pelayanan. Rasul Paulus menasihati kita dalam Kolose 3:23: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Saat motivasi kita murni untuk Tuhan, pekerjaan yang melelahkan dan rutinitas yang menjemukan pun akan berubah menjadi ibadah yang mendatangkan sukacita.

Ketika kita benar-benar mengutamakan Tuhan, sebuah transformasi spiritual yang indah akan mulai terjadi dari dalam keluar. Karakter kita perlahan-lahan diubah menjadi serupa dengan gambaran Kristus, di mana cara berpikir, berkehendak, dan kasih kita kepada sesama diselaraskan dengan hati-Nya. Kita tidak lagi haus akan pujian manusia atau mati-matian mencari pengakuan dunia, melainkan rindu agar nama Tuhan saja yang ditinggikan. Sikap hati yang dewasa ini digambarkan dengan sangat indah oleh Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 3:30: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kedewasaan rohani kita tidak diukur dari seberapa lama kita menjadi Kristen, melainkan dari seberapa rela kita membiarkan diri kita mengecil agar kehadiran Kristus semakin nyata terpancar lewat kehidupan kita.

Refleksi Hidup
Mari kita mengambil waktu sejenak di keheningan hari ini untuk melihat ke dalam cermin hati kita masing-masing. Di manakah fokus hidup kita selama ini? Apakah saat kita bangun di pagi hari, yang pertama kali memenuhi pikiran kita adalah ambisi pribadi, kekhawatiran duniawi, dan bagaimana memuaskan ego kita sendiri? Sering kali kita mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja dalam hidup kita, namun dalam keputusan sehari-hari, kitalah yang tetap memegang kendali penuh atas takhta hati kita. Jika hari-hari kita masih sering dipenuhi dengan rasa iri, kekacauan pikiran, dan relasi yang retak, bisa jadi itu adalah sebuah alarm rohani bahwa kita masih menempatkan ego di tempat yang utama.

Mengutamakan Tuhan adalah sebuah pilihan sadar setiap hari untuk melepaskan hak, menyukai Firman-Nya, taat pada perintah-Nya, dan berkomitmen untuk menjaga kekudusan hidup di tengah dunia yang cemar. Ini adalah undangan untuk memperbarui budi kita agar kita dapat membedakan manakah kehendak Allah yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Hari ini, mari kita belajar untuk berkata “cukup” pada ego kita dan memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi Kristus untuk memimpin. Ingatlah bahwa baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan; karena itu, biarlah seluruh tarikan napas, pekerjaan, dan kasih kita kepada sesama hari ini menjadi kesaksian hidup yang mengutamakan Dia di atas segalanya.

Doa
Bapa Surgawi yang penuh kasih, kami bersyukur atas pengorbanan Kristus yang telah menebus hidup kami dari kesia-siaan. Ampuni kami jika selama ini kami masih sering hidup egosentris, hanya mengejar kepentingan, kenyamanan, dan kehormatan diri kami sendiri. Hari ini, kami mau menyerahkan seluruh keberadaan kami—pekerjaan, keluarga, komunitas, dan pelayanan kami—ke dalam tangan-Mu. Biarlah ego kami semakin mengecil dan Engkau semakin membesar di dalam diri kami, sehingga setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan kami memancarkan kekudusan serta kasih-Mu yang sejati. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan bersyukur. Amin.

Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: Andra

Leave a Comment