Bukan Sekadar Percaya: Menginjil dan Memuridkan

Daily Devotion, 19 April 2026

Kelahiran dan Pertumbuhan Rohani
Dalam perjalanan iman, kita sering mendengar istilah “Amanat Agung”. Perintah Tuhan Yesus dalam Matius 28:20 sebenarnya mencakup dua langkah besar yang tidak boleh dipisahkan: penginjilan dan pemuridan. Penginjilan adalah langkah awal untuk membawa orang yang belum percaya menjadi percaya kepada Kristus (Kisah Para Rasul 16:31). Melalui penginjilan, seseorang dituntun pada pertobatan, dibaptis, dan menerima Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:38). Ini adalah momen “kelahiran baru” di mana seorang bayi rohani lahir.

Namun, tugas kita tidak berhenti di sana. Seorang bayi membutuhkan asupan nutrisi untuk tumbuh. Di sinilah pentingnya pemuridan. Pemuridan adalah proses membimbing orang percaya agar tidak selamanya menjadi bayi rohani yang kanak-kanak dalam pemikiran (1 Korintus 13:11; 14:20), melainkan tumbuh menjadi dewasa melalui bimbingan Firman Tuhan (1 Petrus 2:2). Melalui pemuridan, kita dibentuk untuk menjadi pengikut Kristus yang tidak hanya percaya, tetapi juga taat pada kebenaran Firman-Nya (Roma 1:5).

Refleksi Hidup:
Tujuan akhir dari setiap bimbingan rohani adalah agar kita menjadi serupa dengan gambaran Kristus (Roma 8:29). Pemuridan yang berhasil akan terlihat dari perubahan hidup yang nyata. Pertama, adanya pembaharuan budi. Pola pikir kita yang tadinya duniawi berubah sehingga kita mampu membedakan manakah kehendak Allah yang baik dan sempurna (Roma 12:2). Kedua, kita mulai memiliki gaya hidup seperti Kristus dalam keseharian kita (1 Yohanes 2:6).

Hari ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah aktif membagikan kasih Tuhan kepada orang lain? Dan setelah mereka percaya, apakah kita bersedia menyediakan waktu untuk membimbing mereka? Pemuridan membutuhkan orang-orang yang cakap mengajar dan memiliki “hati bapa” yang sabar menuntun (2 Timotius 2:2; 1 Korintus 4:15). Mari kita tunjukkan buah pertobatan yang nyata melalui Buah Roh—kasih, sukacita, damai sejahtera, dan kesabaran (Galatia 5:22-23). Ingatlah, kekristenan yang sejati adalah ketika hidup kita menjadi teladan bagi sesama, membawa mereka dari sekadar tahu menjadi pengikut Kristus yang militan.

Doa:
“Tuhan Yesus, terima kasih atas anugerah keselamatan yang telah kami terima. Berikanlah kami keberanian untuk terus mengabarkan Injil-Mu kepada mereka yang belum percaya. Namun lebih dari itu, berikanlah kami hati seorang hamba dan bapa untuk setia membimbing sesama kami agar mereka bertumbuh menjadi dewasa rohani. Mampukan kami untuk hidup serupa dengan teladan-Mu, supaya hidup kami menghasilkan buah yang manis bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.”

Oleh: Pdt. Agustinus Ferry Sutanto, M.Th
Editor: SOG Ministry

Leave a Comment